Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Studi Kasus Penipuan Pemasaran 'Wine Halal' Nabidz: Isu Sertifikasi Halal dan Kandungan Alkohol dalam Produk Fermentasi Aisyi, Alya; Nurmaliah , Ima; Marlina , Lina
UQUDUNA: Jurnal Hukum dan Ekonomi Syariah Vol 3 No 02 (2025): Desember
Publisher : STAI Al-Mujtama Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi ini mengeksplorasi kontroversi seputar pemasaran "Halal Wine" yang disebut-sebut oleh Nabidz, sebuah minuman yang diproduksi melalui fermentasi anggur namun diberi label halal tanpa sertifikasi resmi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memeriksa keabsahan klaim halal pada produk fermentasi yang tidak memiliki verifikasi dari lembaga yang berwenang dan untuk menilai kepatuhannya terhadap prinsip-prinsip hukum Islam serta regulasi halal Indonesia. Menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui analisis literatur, makalah ini menyelidiki konsep halal dan thayyib, fatwa yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengenai tingkat alkohol yang diperbolehkan, serta peran badan regulasi seperti MUI dan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Temuan tersebut mengungkapkan bahwa mempromosikan klaim halal yang tidak terverifikasi dapat menyesatkan konsumen Muslim dan melanggar etika bisnis Islam, khususnya prinsip amanah (kepercayaan) dan sidq (kebenaran). Menurut Undang-Undang No. 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal, setiap produk yang mengklaim status halal harus disertifikasi secara resmi. Selain itu, hukum Islam menganggap produk dengan kandungan alkohol yang melebihi ambang batas yang diterima atau menyerupai minuman memabukkan (khamr) sebagai tidak diperbolehkan. Kasus Nabidz menekankan perlunya penegakan yang lebih ketat terhadap regulasi sertifikasi halal dan peningkatan kesadaran di kalangan produsen mengenai praktik pelabelan yang sah. Studi ini menyimpulkan bahwa sertifikasi halal harus transparan dan diperoleh secara resmi untuk menjaga kepercayaan konsumen dan menjaga integritas industri halal di Indonesia. Kata Kunci: _Sertifikasi Halal, Nabidz, Etika Bisnis Islam, Kandungan Alkohol, Fermentasi, Hukum Halal di Indonesia.
Penyerobotan Lahan Negara Di PT Sawit Group Dulta Palma Menurut Etika Bisnis Islam Yuliani, Yuliani; Putri Adinda, Zhaqiya; Marlina , Lina
UQUDUNA: Jurnal Hukum dan Ekonomi Syariah Vol 3 No 02 (2025): Desember
Publisher : STAI Al-Mujtama Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perampasan tanah merupakan tindakan melawan hukum yang melibatkan pendudukan atau perampasan tanah milik orang lain tanpa izin. Tindakan ini tidak hanya melanggar hukum negara tetapi juga bertolak belakang dengan prinsip etika bisnis Islam. Dalam yurisprudensi Islam, tanah yang tidak dimanfaatkan selama tiga tahun dapat direklamasi oleh negara dan didistribusikan kembali kepada mereka yang mampu mengelolanya untuk kepentingan masyarakat, sebagaimana tercermin dalam konsensus (ijma') para ulama berdasarkan pendapat Umar bin Khattab. Etika bisnis Islam menjunjung tinggi nilai-nilai inti seperti keadilan ('adl), kejujuran (shiddiq), tanggung jawab sosial (mas'uliyyah), dan konsultasi bersama (syura). Pendudukan tanah negara yang tidak sah oleh individu atau perusahaan untuk keuntungan pribadi tanpa prosedur hukum yang tepat merusak prinsip-prinsip ini. Hal ini mencerminkan ketidakadilan, ketidakjujuran, dan pengabaian tanggung jawab sosial—perilaku yang dianggap tidak etis dan dilarang dalam Islam. Oleh karena itu, dari perspektif etika bisnis Islam, perampasan tanah merupakan tindakan tercela yang harus dicegah untuk menjamin kesejahteraan sosial dan pengelolaan sumber daya yang adil.