Abstrak Integrasi kecerdasan buatan (AI) semakin memengaruhi praktik pembelajaran di pendidikan tinggi, baik dalam efektivitas pedagogis maupun dinamika interaksi akademik. Penelitian ini menganalisis bagaimana dosen di Indonesia dan Malaysia memaknai serta mempraktikkan penggunaan AI, sekaligus mengidentifikasi faktor yang membentuk persamaan dan perbedaannya. Pendekatan kualitatif dengan desain comparative case study digunakan, melibatkan 30 dosen melalui survei naratif dan wawancara semi-terstruktur. Data dianalisis menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) dan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AI dipandang sebagai alat yang meningkatkan efisiensi kerja akademik dan mendukung pengembangan materi pembelajaran. Namun, muncul kekhawatiran mengenai ketergantungan mahasiswa, penurunan kemampuan berpikir kritis, serta akurasi keluaran AI. Perbedaan antarnegara terlihat pada kedalaman integrasi: dosen Malaysia cenderung lebih intensif memanfaatkan AI dalam aktivitas pembelajaran, sedangkan dosen Indonesia lebih berhati-hati dan menekankan verifikasi manual. Faktor kebijakan institusional, literasi digital, dan budaya akademik turut membentuk variasi tersebut. Temuan ini menegaskan pentingnya kebijakan penggunaan AI yang jelas serta penguatan literasi etis bagi dosen dan mahasiswa. Kata kunci: analisis fenomenologi interpretatif (IPA), dosen, kecerdasan buatan, pendidikan tinggi Abstract The integration of artificial intelligence (AI) is increasingly influencing learning practices in higher education, both in pedagogical effectiveness and in the dynamics of academic interaction. This study analyzes how lecturers in Indonesia and Malaysia interpret and practice the use of AI while identifying factors that form similarities and differences. A qualitative approach with a comparative case study design was used, involving 30 lecturers through narrative surveys and semi-structured interviews. The data were analyzed using Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) and thematic analysis. The results show that AI is considered a tool that improves the efficiency of academic work and supports the development of learning materials. However, there are concerns about student dependency, decreased critical thinking skills, and the accuracy of AI output. Differences between countries can be seen in the depth of integration: Malaysian lecturers tend to use AI more intensively in learning activities, while Indonesian lecturers are more cautious and emphasize manual verification. Institutional policy factors, digital literacy, and academic culture also influence these variations. The findings emphasize the value of developing clear AI policies and strengthening ethical literacy for faculty and students. Keywords: artificial intelligence, higher education, Interpretative Phenomenological Analysis (IPA)