Pengelolaan air ballast yang tidak optimal berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan laut akibat perpindahan organisme antar perairan. Oleh karena itu, penerapan Ballast Water Management Plan (BWMP) menjadi hal yang penting dalam mendukung kepatuhan terhadap ketentuan Ballast Water Management Convention (BWMC). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa gangguan pada sistem Ballast Water Treatment System (BWTS), khususnya pada komponen pengolahan kimia dapat memengaruhi efektivitas pengelolaan air ballast. Pada penelitian ini memiliki keterbaruan pada foku s kajian optimalisasi penerapan BWMP melalui identifikasi akar permasalahan malfungsi sistem Total Residual Oxidant (TRO) akibat sumbatan pada T-strainer serta keterkaitannya dengan aspek operasional dan perawatan di atas kapal. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan diagram fishbone. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak optimalnya penerapan BWMP dipengaruhi oleh faktor manusia, mesin, metode, material, lingkungan, dan manajemen operasional. Sumbatan pada T-strainer sistem TRO akibat endapan yang tidak dibersihkan secara rutin menyebabkan kinerja sistem BWTS menjadi tidak stabil dan memicu alarm maupun kondisi trip. Selain itu, keterbatasan pemahaman kru terhadap pelaksanaan ballast operation turut memengaruhi efektivitas pengelolaan air ballast. Dengan peningkatan perawatan sistem secara berkala dan penguatan pemahaman awak kapal, penerapan BWMP dapat berjalan lebih optimal dan mendukung upaya pencegahan pencemaran air laut.