ABSTRACT The development of inclusive education policies in Indonesia has encouraged universities to establish Disability Service Units (ULD) to expand access and support for students with disabilities. This study aims to analyze the support systems available for disabled students at three inclusive universities kampus 1, kampus 2, and kampus 3 including policy support, academic services, mentoring, and both physical and non-physical accessibility. A qualitative approach was employed by involving students with disabilities and ULD administrators through questionnaires, in-depth interviews, observations, and document analysis. Data were examined using thematic analysis to identify patterns of support implemented across campuses. The findings show variations in support among the universities: kampus 1 excels in academic services and mentoring, kampus 2 is stronger in policy development and institutional coordination, while kampus 3 demonstrates strengths in physical accessibility, complaint services, and learning support facilities. Overall, the available support systems contribute to enhancing the learning experiences of disabled students, although further improvements are needed in service standards, policy consistency, and the expansion of disability-friendly infrastructure. ABSTRAK Perkembangan kebijakan pendidikan inklusif di Indonesia mendorong perguruan tinggi membentuk Unit Layanan Disabilitas (ULD) untuk memperluas akses dan dukungan bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Penelitian ini bertujuan membahas bentuk sistem pendukung yang tersedia bagi mahasiswa difabel di tiga perguruan tinggi inklusif kampus 1, kampus 2, dan kampus 3 meliputi dukungan kebijakan, layanan akademik, pendampingan, serta aksesibilitas fisik dan nonfisik. Pendekatan kualitatif digunakan dengan melibatkan mahasiswa difabel dan pengelola ULD melalui kuesioner, wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Data dianalisis menggunakan teknik analisis tematik untuk menggali pola dukungan yang diterapkan di masing-masing kampus. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi dukungan antar kampus: kampus 1 menonjol pada layanan akademik dan pendampingan, kampus 2 lebih kuat pada kebijakan pengembangan dan koordinasi kelembagaan, sementara kampus 3 unggul dalam aksesibilitas fisik, layanan aduan, dan fasilitas penunjang pembelajaran. Secara keseluruhan, sistem pendukung yang tersedia memberikan kontribusi pada peningkatan pengalaman belajar siswa difabel, meskipun diperlukan penguatan standar layanan ULD, konsistensi kebijakan, serta perluasan fasilitas ramah disabilitas di seluruh lingkungan kampus.