Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Tantangan Kepemimpinan Sekolah dalam Era Revolusi Industri 4.0: Sebuah Tinjauan Pustaka Lubis, Agus Fadly Taqwan; Gusti, Tika Sylviani; Jalinus, Nizwardi; Ernawati, Ernawati; Yustisia, Henny
Empiricism Journal Vol. 6 No. 4: December 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/5y7ya160

Abstract

Tinjauan pustaka ini menganalisis tantangan kepemimpinan sekolah pada era Revolusi Industri 4.0 serta implikasinya terhadap strategi transformasi digital di lingkungan pendidikan. Kajian dilakukan melalui penelusuran literatur pada berbagai basis data akademik dan snowballing, dengan batasan publikasi tahun 2015–2025. Dari proses seleksi, diperoleh 17 artikel utama yang dianalisis menggunakan sintesis tematik. Hasil kajian menunjukkan lima temuan kunci: (1) kesenjangan literasi dan kompetensi digital guru maupun kepala sekolah masih menjadi hambatan dominan; (2) keterbatasan infrastruktur, sistem manajemen berbasis teknologi, dan dukungan kebijakan internal mengurangi efektivitas integrasi teknologi; (3) resistensi budaya sekolah dan rendahnya kesiapan perubahan memperlambat adopsi inovasi digital; (4) kebutuhan kolaborasi, jejaring, dan kewirausahaan sekolah meningkat untuk memperkuat dukungan sumber daya serta kemitraan eksternal; dan (5) pengambilan keputusan berbasis data muncul sebagai kompetensi strategis baru yang belum merata. Kajian ini menegaskan urgensi kepemimpinan visioner, transformasional, adaptif, dan partisipatif sebagai pendekatan yang paling konsisten mendukung transformasi digital sekolah. Implikasinya, penguatan kapasitas SDM, tata kelola data, manajemen perubahan, dan investasi infrastruktur menjadi prioritas kebijakan dan praktik kepemimpinan sekolah. Challenges of School Leadership in the Era of the Industrial Revolution 4.0: A Literature Review Abstract This literature review examines the challenges of school leadership in the era of the Fourth Industrial Revolution and their implications for digital transformation strategies in educational settings. The review was conducted through a literature search across multiple academic databases and snowballing, limited to publications from 2015–2025. From the selection process, 17 core articles were identified and analyzed using thematic synthesis. The findings highlight five key results: (1) gaps in digital literacy and digital competence among teachers and school principals remain the dominant barrier; (2) limitations in infrastructure, technology-based management systems, and internal policy support reduce the effectiveness of technology integration; (3) resistance within school culture and low readiness for change slow down the adoption of digital innovation; (4) the need for collaboration, networking, and school entrepreneurship increases to strengthen resource support and external partnerships; and (5) data-driven decision-making emerges as a new strategic competence that is not yet evenly developed. This review underscores the urgency of visionary, transformational, adaptive, and participatory leadership as the approaches most consistently supporting school digital transformation. The implications are that strengthening human resource capacity, data governance, change management, and infrastructure investment should be prioritized in school leadership practice and policy.
Demokrasi Industri dan Pendidikan Vokasi dalam Membangun Budaya Partisipatif dan Keadilan Sosial di Dunia Kerja Kartini, Ridha; Gusti, Tika Sylviani; Lubis, Agus Fadly Taqwan; Abdullah, Rijal; Hidayat, Hendra
Empiricism Journal Vol. 6 No. 4: December 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/1rvpst35

Abstract

Penelitian ini mengkaji pengintegrasian konsep Demokrasi Industri (DI) ke dalam pendidikan vokasi Indonesia untuk mengatasi keterbatasan pendekatan link and match yang terlalu instrumental. Meskipun model link and match berhasil mencetak lulusan yang kompeten secara teknis, ia gagal membekali mereka dengan kompetensi sosio-politik (seperti kesadaran hak pekerja, negosiasi, dan pemahaman hubungan industrial), membuat lulusan rentan dan minim partisipasi dalam pengambilan keputusan di tempat kerja. Konsep DI, yang menekankan prinsip kesetaraan, akuntabilitas, dan pembagian kekuasaan, terbukti efektif memperkuat rasa memiliki dan meningkatkan kualitas keputusan dalam organisasi. Oleh karena itu, fokus kajian diarahkan pada bagaimana mengintegrasikan kompetensi sosio-politik termasuk kemampuan berunding dan kesadaran partisipatif ke dalam pembelajaran vokasi tanpa mengabaikan keterampilan teknis. Solusi strategis diwujudkan melalui tiga pilar utama: integrasi kurikulum, kolaborasi industri, dan dukungan kebijakan. Penelitian ini berargumen bahwa pendidikan vokasi yang berorientasi DI tidak hanya meningkatkan relevansi lulusan terhadap tantangan industri modern dan digitalisasi, tetapi juga berkontribusi langsung pada kesejahteraan sosial pekerja. Industrial Democracy and Vocational Education in Building a Participatory Culture and Social Justice in the World of Work Abstract This research examines the integration of the concept of Industrial Democracy (ID) into Indonesian vocational education to address the limitations of the overly instrumental link and match approach. While the link and match model successfully produces technically competent graduates, it fails to equip them with socio-political competencies (such as awareness of workers' rights, negotiation skills, and understanding of industrial relations), rendering graduates vulnerable and limiting their participation in workplace decision-making. The ID concept, which emphasizes the principles of equality, accountability, and power-sharing, has proven effective in fostering ownership and improving the quality of organizational decisions. Therefore, the study focuses on how to integrate socio-political competencies including negotiation abilities and participatory awareness into vocational learning without neglecting technical skills. The strategic solution is realized through three main pillars: curriculum integration, industry collaboration, and policy support This research argues that ID-oriented vocational education not only enhances the relevance of graduates to the challenges of modern industry and digitalization but also directly impact the social welfare of workers.
EVALUASI IMPLEMENTASI PROGRAM MAGANG INDUSTRI UNTUK PENGEMBANGAN KOMPETENSI TEKNIK OTOMASI INDUSTRI SMK MUHAMMADIYAH 2 CILEUNGSI Gusti, Tika Sylviani; Maksum, Hasan; Novaliendry, Dony
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v5i4.8587

Abstract

This study aims to evaluate the effectiveness of the industrial internship program implementation in the Industrial Automation Engineering Expertise Program at SMK Muhammadiyah 2 Cileungsi. The evaluation was conducted using the CIPP (Context, Input, Process, Product) model to obtain a comprehensive overview of the suitability of objectives, implementation readiness, internship process, and student outcomes. This study used a mixed-approach with a total sampling technique involving 50 students in grades XI and XII, as well as qualitative informants consisting of supervising teachers, industrial supervisors, and the head of the expertise program. Data were collected through questionnaires, interviews, observations, and documentation, then analyzed using descriptive statistics and qualitative analysis using the Miles and Huberman model. The results indicate that the industrial internship implementation has not been fully effective in supporting the development of students' technical competencies. The main problem lies in the mismatch between student placement and Industrial Automation Engineering expertise, resulting in many students not engaging in relevant work activities such as PLC programming, wiring panels, instrumentation, pneumatics, and industrial control systems. Instead, some students are placed in non-technical jobs that do not contribute to the improvement of automation skills. Nevertheless, the internship program still has a positive impact on the development of soft skills such as discipline, communication, and adapting to work culture. The study concluded that internship effectiveness would increase if the placement system were improved through student competency mapping, alignment with industry needs, and expanding partnerships with companies with work units in the automation sector. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas implementasi program magang industri pada Program Keahlian Teknik Otomasi Industri SMK Muhammadiyah 2 Cileungsi. Evaluasi dilakukan menggunakan model CIPP (Context, Input, Process, Product) untuk memperoleh gambaran menyeluruh terkait kesesuaian tujuan, kesiapan pelaksanaan, proses magang, serta hasil yang dicapai siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran dengan teknik total sampling yang melibatkan 50 siswa kelas XI dan XII, serta informan kualitatif yang terdiri dari guru pembimbing, pembimbing industri, dan kepala program keahlian. Data dikumpulkan melalui angket, wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan analisis kualitatif model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan magang industri belum sepenuhnya efektif dalam mendukung pengembangan kompetensi teknis siswa. Permasalahan utama terletak pada ketidaksesuaian penempatan siswa dengan bidang keahlian Teknik Otomasi Industri, sehingga banyak siswa tidak terlibat dalam aktivitas kerja yang relevan seperti pemrograman PLC, wiring panel, instrumentasi, pneumatik, dan sistem kontrol industri. Sebaliknya, sebagian siswa ditempatkan pada pekerjaan non-teknis yang tidak berkontribusi pada peningkatan keterampilan otomasi. Meskipun demikian, program magang masih memberikan dampak positif pada pengembangan soft skills seperti kedisiplinan, komunikasi, dan adaptasi budaya kerja. Penelitian menyimpulkan bahwa efektivitas magang akan meningkat apabila sistem penempatan diperbaiki melalui pemetaan kompetensi siswa, penyelarasan kebutuhan industri, serta perluasan kemitraan dengan perusahaan yang memiliki unit kerja sesuai bidang otomasi.