Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis learning obstacle yang dialami siswa dalam menyelesaikan soal-soal computational thinking pada materi tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI KM 2 di SMAN 13 Gowa. Data dikumpulkan melalui tes kemampuan computational thinking, observasi pembelajaran, serta wawancara dengan siswa dan guru. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa mengalami hambatan belajar yang sangat tinggi pada hampir seluruh indikator computational thinking, dengan rata-rata hambatan sebesar 97%. Hambatan belajar meliputi: (1) kesalahan dalam melakukan dekomposisi atau identifikasi masalah, karena siswa tidak mampu menentukan informasi penting pada soal, terutama soal cerita; (2) kesulitan mengenali pola sehingga keliru menggunakan rumus barisan atau deret; (3) miskonsepsi dalam melakukan abstraksi dan generalisasi, ditandai dengan kecenderungan menggunakan seluruh informasi tanpa memilah yang relevan; serta (4) kelemahan dalam berpikir algoritmik karena siswa tidak mampu menyusun langkah-langkah penyelesaian secara sistematis. Wawancara mengungkap bahwa siswa jarang diberikan soal kontekstual sehingga tidak terlatih memahami informasi, serta masih bingung membedakan barisan dan deret. Penelitian ini menyimpulkan bahwa learning obstacle siswa didominasi oleh hambatan epistemologis dan didaktis, yang berkaitan dengan rendahnya pemahaman konsep dasar, kurangnya variasi latihan soal, dan belum optimalnya keterkaitan antara materi dan konteks.