Tempe merupakan makanan tradisional berbasis kedelai yang memiliki peran penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi dan konsumsi harian masyarakat Indonesia. Namun, proses fermentasi tempe yang masih dilakukan secara konvensional sering menghadapi kendala terkait ketidakstabilan suhu dan kelembapan selama proses pengolahan, sehingga berpotensi menghasilkan produk cacat yang tidak layak konsumsi. Kondisi ini mendorong terjadinya peningkatan Food Lost and Waste (FLW), yang tidak hanya merugikan pelaku usaha dari sisi ekonomi, tetapi juga dapat menurunkan kapasitas produksi dan memberikan dampak negatif terhadap aspek keberlanjutan lingkungan. Oleh sebab itu, diperlukan inovasi teknologi yang mampu mengendalikan parameter fermentasi secara optimal dan konsisten selama proses berlangsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengurangi tingkat produk cacat tempe dan meminimalkan FLW melalui perancangan dan implementasi alat fermentasi berbasis Internet Of Things (IoT). Metodologi penelitian meliputi observasi langsung terhadap proses produksi tempe, penyusunan Value Stream Mapping (VSM) As-Is untuk menganalisis aliran proses dan mengidentifikasi pemborosan, perancangan prototipe alat IoT, pengujian eksperimen pada tiga variasi kondisi fermentasi (ruang terbuka, ruang tertutup, dan inkubator IoT), serta penyusunan VSM To-Be untuk mengukur peningkatan efisiensi proses setelah penerapan alat. Hasil implementasi IoT mampu menjaga kelmabapan dan suhu 30℃-40℃ secara otomatis dan mampu mempersingkat waktu fermntasi yang semula 55 jam menjadi 26 jam