Perkembangan pembangunan yang semakin kompleks harus diiringi dengan perencanaan sistem keamanan yang memadai. Salah satu bahaya yang dapat mengancam berjalannya aktivitas adalah kebakaran. Dibutuhkan sistem proteksi kebakaran seperti detektor asap untuk mencegah kerugian yang dapat mengganggu kelancaran aktivitas sehari-hari. Penelitian ini mengkaji mengenai minimal banyaknya detektor asap yang dibutuhkan dengan menerapkan konsep bilangan lokasi pada teori graf. Bilangan lokasi membedakan antarsimpul berdasarkan representasi metriknya terhadap himpunan referensi sehingga detektor asap dapat ditempatkan dengan memastikan cakupan tetap penuh dengan jumlah seminimal mungkin. Studi kasus yang diambil adalah Gedung Baru FMIPA Universitas Tanjungpura yang terdiri dari tiga lantai. Setiap lantai direpresentasikan ke dalam bentuk graf dengan simpul pada graf merepresentasikan ruangan atau titik di koridor dekat tangga dan sisi pada graf merepresentasikan keterhubungan antarruangan atau titik yang direpresentasikan simpul-simpul yang ada pada graf. Dua simpul akan bertetangga apabila antarruangan atau titik yang direpresentasikan kedua simpul tersebut terpisah oleh dinding atau pintu dari ruangan yang direpresentasikan salah satu dari dua simpul tersebut menghadap ke ruangan atau titik yang direpresentasikan simpul lainnya. Graf dari setiap lantai kemudian dicari bilangan lokasinya untuk menentukan minimum banyaknya detektor asap yang diperlukan, dan himpunan referensinya, untuk mengetahui alternatif penempatan detektor asap. Proses komputasi dilakukan dengan Python. Hasil yang diperoleh adalah lantai pertama memerlukan tiga detektor asap dengan 12 alternatif penempatannya, lantai kedua memerlukan empat detektor asap dengan 90 alternatif penempatannya, dan lantai ketiga memerlukan tiga detektor asap dengan 18 alternatif penempatannya.