Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penyimpanan dingin (chiller) dan beku (freezer) serta pengemasan terhadap kualitas tomat sebagai salah satu komoditas hortikultura bernilai ekonomis tinggi. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan faktorial dua arah tanpa ulangan, dengan faktor jenis kemasan (plastik PE dan kertas koran) serta suhu penyimpanan (0 °C dan 8-10 °C). Parameter mutu yang diamati meliputi warna, tekstur, kekerasan, dan susut bobot tomat selama 7 hari penyimpanan. Dalam hal ini, kekerasan diamati sebagai parameter mekanis spesifik (force to penetrate/compress), sedangkan tekstur mencakup karakteristik sensori yang lebih luas seperti kekenyalan dan integritas jaringan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa penyimpanan beku cenderung lebih efektif dalam mempertahankan kekerasan tomat dibandingkan penyimpanan dingin, meskipun berpotensi menyebabkan perubahan warna yang lebih drastis akibat kerusakan membran sel. Parameter tekstur secara umum juga lebih stabil pada kondisi beku, namun perubahan struktur jaringan setelah thawing tetap perlu diperhatikan. Sementara itu, susut bobot lebih besar terjadi pada penyimpanan chiller, terutama pada kemasan plastik PE, yang disebabkan oleh laju transpirasi dan penguapan air yang lebih tinggi. Analisis ANOVA menunjukkan bahwa suhu penyimpanan memberikan pengaruh signifikan terhadap parameter kekerasan (p < 0.05), namun tidak signifikan terhadap susut bobot maupun tekstur. Temuan ini menegaskan bahwa pemilihan metode dan kondisi penyimpanan yang tepat—termasuk suhu dan jenis bahan pengemas—sangat penting untuk mempertahankan mutu tomat selama penyimpanan pascapanen. Untuk mempertahankan mutu fisik tomat selama penyimpanan pascapanen, disarankan menggunakan metode penyimpanan beku (freezer) yang dikombinasikan dengan kemasan berbahan kertas koran. Kombinasi ini terbukti lebih efektif dalam menjaga kekerasan dan tekstur tomat hingga 7 hari, sekaligus meminimalkan susut bobot dibandingkan penyimpanan dingin (chiller) dengan plastik PE. Namun, perlu diperhatikan potensi perubahan warna akibat kerusakan pigmen selama proses pembekuan dan pencairan, sehingga produk sebaiknya segera dikonsumsi setelah thawing untuk menghindari penurunan kualitas visual.