Lulur berbahan dasar buah Xylocarpus granatum berpotensi dikembangkan sebagai produk kosmetik alami karena mengandung senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kulit. Namun, mutu fisikokimia lulur sangat dipengaruhi oleh metode pengeringan yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan karakteristik fisikokimia lulur buah X. granatum yang dikeringkan dengan metode sinar matahari dan oven. Penelitian dilakukan melalui tahapan pembuatan simplisia, pengolahan menjadi serbuk, serta formulasi lulur. Parameter uji meliputi rendemen, pH, kadar air, dan viskositas. Rendemen dihitung dengan perbandingan bobot serbuk terhadap bahan segar, pH diukur menggunakan pH meter, kadar air ditentukan dengan metode oven, sedangkan viskositas diuji menggunakan Brookfield Viscometer sesuai SNI 06-6989.23-2005 dan ASTM D2196-20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengeringan oven menghasilkan rendemen lebih tinggi (28,4 ± 0,05%) dibandingkan pengeringan sinar matahari (6,13 ± 0,28%). Nilai pH keduanya masih sesuai dengan kisaran pH kulit, yaitu 6,53 ± 0,05 (oven) dan 6,13 ± 0,28 (sinar matahari). Kadar air lulur sinar matahari lebih rendah (9,34 ± 0,43%) dibanding oven (11,66 ± 0,38%), sedangkan viskositas lulur sinar matahari lebih tinggi (11.833,33 ± 763,76 cP) daripada oven (9.833,33 ± 152,75 cP). Dapat disimpulkan bahwa metode pengeringan memengaruhi mutu fisik lulur mangrove. Pengeringan oven lebih efisien dalam meningkatkan rendemen dan kestabilan pH, sedangkan pengeringan sinar matahari menghasilkan kadar air lebih rendah dan viskositas lebih tinggi sehingga memberikan tekstur lebih kental. Hasil ini menunjukkan bahwa pemilihan metode pengeringan perlu disesuaikan dengan tujuan formulasi produk lulur.