Pemanfaatan limbah pertanian seperti jerami padi, dedak padi, tongkol jagung, dan ampas tahu memiliki potensi besar sebagai sumber pakan alternatif strategis bagi ternak ruminansia, khususnya sapi Bali, karena ketersediaannya yang melimpah dan biaya yang relatif murah, menjadikannya solusi vital untuk mengatasi defisit hijauan pada musim kemarau. Meskipun demikian, tantangan utama terletak pada kualitas nutrisi limbah yang rendah, ditandai oleh tingginya kandungan serat kasar dan struktur lignoselulosa yang kompleks, yang mengakibatkan daya cerna rendah dan membatasi asupan energi serta protein ternak. Selain itu, hambatan sosial ekonomi seperti keterbatasan pengetahuan teknis mengenai teknologi pengolahan pakan (fermentasi dan amoniasi), modal, dan infrastruktur peternak tradisional juga memengaruhi tingkat adopsi. Untuk mengoptimalkan pemanfaatan, diperlukan intervensi teknologi seperti fermentasi berbasis mikroorganisme dan amoniasi urea yang terbukti mampu memecah ikatan lignoselulosa, meningkatkan kecernaan, dan mutu nutrisi. Suplementasi dengan bahan sumber energi (molase) dan protein (dedak padi, ampas tahu) juga krusial untuk meningkatkan sintesis protein mikroba rumen dan performa pertambahan bobot badan ternak. Dengan demikian, integrasi inovasi teknologi pengolahan pakan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan dukungan kebijakan akan menjamin keberlanjutan pemanfaatan limbah pertanian sebagai strategi efisien untuk menekan biaya produksi dan meningkatkan produktivitas sapi Bali dalam sistem peternakan rakyat