Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

GAYA KOMUNIKASI PENYULUH AGAMA HINDU DI KOTA MATARAM(KAJIAN ANALISIS HERMENEUTIKA) I Wayan Mardhawa Santa; Ni Luh Sinar Ayu Ratna Dewi; I Gusti Ayu Aditi
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 3 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) jenis gaya komunikasi Penyuluh Agama Hindu di Kota Mataram, (2)  implementasi gaya komunikasi yang diterapkan Penyuluh Agama Hindu di Kota Mataram,(3) implikasi dari gaya komunikasi Penyuluh Agama Hindu di Kota Mataram. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2025  dengan menganalisis gaya komunikasi pada lima orang penyuluh agama hindu di kota Mataram menggunakan pendekatan hermeneutika. Dengan pendekatan ini, gaya komunikasi dapat dianalisis tidak hanya sebagai teknik retoris, tetapi juga sebagai cerminan dari pemahaman, pengalaman spiritual, serta dinamika sosial. Penelitian ini menjadi penting dalam rangka menggali pola komunikasi penyuluh yang efektif, inklusif, dan kontekstual, serta memberikan kontribusi bagi pengembangan strategi komunikasi keagamaan yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat Hindu masa kini. Berdasarkan analisis teori Gaya Komunikasi Stewart L. Tubbs & Sylvia Moss serta pendekatan Hermeneutika Hans-Georg Gadamer, penelitian menemukan bahwa : (1) kelima Penyuluh menggunakan gaya komunikasi yang berbeda-beda dengan penyesuaian terhadap konteks sosial, budaya, karakter audiens, dan isu keagamaan lokal. Jenis gaya komunikasi yang muncul meliputi: Structuring Style, Dynamic Style, Equalitarian Style, Controlling Style dan Recreational Style, (2) Implementasi gaya komunikasi para Penyuluh sangat beragam dan mencerminkan adaptasi terhadap kondisi sosial masyarakat kota Mataram yang multikultural. (3) Gaya komunikasi yang diterapkan para penyuluh berdampak pada beberapa aspek penting kehidupan keagamaan umat hindu di kota mataram, diantaranya adalah  meningkatnya pemahaman keagamaan, meningkatnya keterlibatan dan partisipasi umat, penguatan identitas hindu dan moderasi beragama, meningkatkan efektivitas pembinaan keagamaan di era digital serta penguatan relasi sosial antara penyuluh dan umat
Religious Moderation between Balinese Hindus and Sasak Muslims at Lingsar Temple: A Theo-Humanist Perspective Ni Luh Sinar Ayu Ratna Dewi; I Wayan Wirata; Nanang Sutrisno
Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies) Vol. 16 No. 1 (2026): Bali Beyond Bali
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JKB.2026.v16.i01.p02

Abstract

This article aims to reveal the phenomenon of religious moderation between Balinese Hindus and Sasak Muslims at the shared sacred space of Lingsar Temple in the Muslim-dominated island of Lombok (east of Bali) from a theo-humanist perspective. It addresses how theology, as the foundation of religious belief, can be transformed into humanistic practices that foster religious moderation in everyday interactions. Using a qualitative ethnographic approach grounded in hermeneutics, phenomenology, and social construction theory, data were collected through observation, in-depth interviews, and document analysis, and interpreted through reflective analysis. This study finds that theo-humanism functions as a central social mechanism in realizing religious moderation at Lingsar Temple through two interrelated processes: the construction of a shared sacred space and the transformation of theological awareness into lived social harmony. Theo-humanism translates abstract theological doctrines into empirical social practices through three Bergerian moments—externalization, objectivation, and internalization—reproduced and sustained across generations, enabling theological plurality to be continuously negotiated as practical interreligious coexistence.
Religious Moderation between Balinese Hindus and Sasak Muslims at Lingsar Temple: A Theo-Humanist Perspective Ni Luh Sinar Ayu Ratna Dewi; I Wayan Wirata; Nanang Sutrisno
Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies) Vol. 16 No. 1 (2026): Bali Beyond Bali
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JKB.2026.v16.i01.p02

Abstract

This article aims to reveal the phenomenon of religious moderation between Balinese Hindus and Sasak Muslims at the shared sacred space of Lingsar Temple in the Muslim-dominated island of Lombok (east of Bali) from a theo-humanist perspective. It addresses how theology, as the foundation of religious belief, can be transformed into humanistic practices that foster religious moderation in everyday interactions. Using a qualitative ethnographic approach grounded in hermeneutics, phenomenology, and social construction theory, data were collected through observation, in-depth interviews, and document analysis, and interpreted through reflective analysis. This study finds that theo-humanism functions as a central social mechanism in realizing religious moderation at Lingsar Temple through two interrelated processes: the construction of a shared sacred space and the transformation of theological awareness into lived social harmony. Theo-humanism translates abstract theological doctrines into empirical social practices through three Bergerian moments—externalization, objectivation, and internalization—reproduced and sustained across generations, enabling theological plurality to be continuously negotiated as practical interreligious coexistence.