Muhammad Rajib Habiburrahman
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Relasi Guru-Murid dalam Q.S. al-Kahf 66-70: Analisis Tasawuf Ibn ‘Ajībah terhadap Isu Feodalisme Pesantren Muhammad Rajib Habiburrahman; Norhidayat; Ahmad Mujahid
Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi (Januari 2026) In Press
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/jurmie.v3i1.1543

Abstract

The teacher-student relationship in the Islamic educational tradition, especially in Islamic boarding schools, is often perceived as a hierarchical structure that restricts freedom of thought, especially by groups outside the tradition who do not understand the meaning of khidmah, tabarruk, and adab ta'ẓīm al-'ilm. This study reviews this relationship through the analysis of Q.S. al-Kahf verses 66-70 using Ibn 'Ajībah's approach to Sufism in Al-Baḥr al-Madīd. The research method used is a literature study with content analysis techniques on the interpretation of Ibn 'Ajībah, then compared with literature on pesantren feudalism and anthropological studies on kiai authority. The results of the study show that the stories of Moses and Khidr represent a balanced dialectic between obedience and critical reason, Ibn 'Ajībah distinguishes between the taslīm in the mental realm and the space of questioning in the realm of birth. These findings confirm that the authority of teachers in the Sufistic perspective is not hierarchical dominance, but rather the result of a depth of knowledge and spiritual guidance. Thus, the accusation of feudalism against pesantren needs to be understood more proportionately through the ethical framework of teacher-student relations that opens up a space for dialogue without abandoning manners.
Sufisme Pembaru dalam Gerakan Jamaah Tabligh: Transformasi Keagamaan Komunitas Meo di Mewat, India Muhammad Rajib Habiburrahman
Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi (Januari 2026) In Press
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/jurmie.v3i1.1554

Abstract

Artikel ini menganalisis konsep sufisme pembaru dalam gerakan Jamaah Tabligh (JT) serta perannya dalam mendorong transformasi keagamaan komunitas Meo di Mewat, India. Kajian ini bertolak dari tradisi reformis Deobandi yang menjadi basis teologis Jamaah Tabligh, dengan menelaah bagaimana gagasan sufisme berbasis syariah dipraktikkan melalui dakwah, disiplin moral, dan pembinaan komunitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis teks tematik terhadap sumber-sumber kepustakaan utama, yang difokuskan pada lima aspek: relasi Jamaah Tabligh dengan tradisi sufisme pembaru, program pembaruan sufistik Maulana Muhammad Ilyas, ketegangan antara sufisme populer dan sufisme berpusat pada syariah, transformasi praktik keagamaan masyarakat Meo, serta sikap Jamaah Tabligh terhadap modernitas. Hasil analisis menunjukkan bahwa Jamaah Tabligh merepresentasikan bentuk sufisme praktis non-tarekat yang menekankan purifikasi ajaran, penguatan syariah, dan internalisasi nilai-nilai spiritual melalui praktik dakwah. Di Mewat, strategi dakwah Jamaah Tabligh berhasil menggeser orientasi keagamaan komunitas Meo dari praktik sinkretik menuju Islam normatif, meskipun perubahan tersebut berlangsung secara bertahap dan tidak sepenuhnya menghapus struktur sosial-budaya lokal. Pada saat yang sama, Jamaah Tabligh memperlihatkan sikap ambivalen terhadap modernitas: menolak aspek sekuler dan rasionalisme keagamaan, tetapi secara tidak langsung mendorong mobilitas sosial, jaringan transnasional, dan kesadaran keislaman global. Temuan ini diperkuat melalui pembacaan kontekstual atas perkembangan Jamaah Tabligh di Indonesia dan praktik dakwahnya di ruang urban. Artikel ini menyimpulkan bahwa Jamaah Tabligh dapat dipahami sebagai manifestasi neo-sufisme yang berupaya menyeimbangkan pemurnian ajaran dengan adaptasi praktis terhadap dinamika sosial modern.