Tanaman biofarmaka memiliki peran penting dalam pengobatan tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Indonesia. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pemanfaatan tanaman biofarmaka semakin berkembang dan mulai disejajarkan dengan obat konvensional. Tanaman biofarmaka di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan pengobatan tradisional, tetapi juga sebagai bumbu dapur yang menunjang kebutuhan sehari-hari masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana perkembangan dan potensi tanaman biofarmaka di NTT serta kontribusinya terhadap pemanfaatan pengobatan tradisional. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) Pertanian Provinsi Nusa Tenggara Timur periode tahun 2020–2024. Data dianalisis secara deskriptif dengan membandingkan hasil statistik produksi tanaman biofarmaka dengan studi kasus serta jurnal ilmiah yang relevan dan membahas topik sejenis. Hasil analisis menunjukkan bahwa beberapa jenis tanaman biofarmaka memiliki tingkat produktivitas yang relatif tinggi, di antaranya jahe, kunyit, laos, jeruk nipis, dan serai. Tanaman-tanaman tersebut banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan pengobatan tradisional sekaligus bumbu dapur. Lidah buaya memiliki potensi pengembangan yang besar, namun saat ini produktivitasnya masih tergolong rendah. Rendahnya produktivitas lidah buaya menjadi tantangan sekaligus peluang, mengingat meningkatnya tren industri kecantikan yang memanfaatkan bahan alami berbasis tanaman biofarmaka. Oleh karena itu, pengembangan dan peningkatan produktivitas tanaman lidah buaya perlu mendapat perhatian lebih lanjut agar dapat memberikan nilai tambah ekonomi serta mendukung diversifikasi pemanfaatan tanaman biofarmaka di Nusa Tenggara Timur.