Industri percetakan di Indonesia mengalami transformasi mendasar akibat disrupsi digital, yang memperketat persaingan dan mengalihkan preferensi pelanggan menuju layanan yang lebih cepat, fleksibel, dan terintegrasi secara digital. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi, menilai, dan memetakan prioritas risiko yang dihadapi sebuah perusahaan percetakan tradisional di Jakarta Selatan dalam konteks perubahan teknologi, operasional, dan pasar. Metode penelitian menggunakan pendekatan triangulasi melalui wawancara semi-terstruktur dengan manajemen serta data sekunder dari sumber industri digital. Proses identifikasi menghasilkan 15 risiko pada kategori operasional, keuangan, teknologi, pasar, serta hukum lingkungan. Penilaian kualitatif dilakukan dengan Matriks Likelihood Impact berdasarkan kerangka Enterprise Risk Management (ERM) dan ISO 31000. Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya risiko kategori High, dengan lima risiko kategori Medium yang mencakup gangguan produksi, komplain produk, keterlambatan pengiriman, penurunan permintaan cetak fisik, dan performa mesin, sementara sepuluh risiko lainnya berada pada kategori Low. Temuan ini menunjukkan bahwa perusahaan beroperasi dalam lingkungan risiko yang saling terkait akibat penuaan peralatan, kesalahan operasional, fluktuasi harga, dan ancaman siber. Penelitian menyimpulkan bahwa mitigasi terarah melalui penyempurnaan SOP digital, pemantauan mesin berbasis IoT, peremajaan peralatan, serta pengembangan layanan branding end to end menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan dan menjaga daya saing di era digital.