Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Kandungan Biokimia, Mekanisme Biokimia Farmasi, dan Potensi Farmasi Jeruk Purut (Citrus hystrix D.C.) dan Daun Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.): Biochemical Content, Biochemical Mechanisms in Pharmacy, and Pharmaceutical Potential of Kaffir Lime (Citrus hystrix D.C.) and Sweet Potato Leaves (Ipomoea batatas L.) Okti Sonya Rahmadani; Esa Margareta; Nanik Apriyanti
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 9 No. 1: Januari 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i1.10255

Abstract

Jeruk purut (Citrus hystrix D.C.) dan daun ubi jalar (Ipomoea batatas L.) merupakan tanaman yang banyak dimanfaatkan secara tradisional dan memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai bahan baku obat berbasis alam. Jeruk purut dikenal mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, terpenoid, serta minyak atsiri dengan komponen utama sitronelal, limonen, dan linalool yang berperan dalam aktivitas analgesik, antiinflamasi, antioksidan, dan sedatif ringan. Sementara itu, daun ubi jalar kaya akan polifenol, flavonoid, antosianin, vitamin, dan mineral yang berperan sebagai antioksidan dan imunomodulator, serta memiliki potensi dalam meningkatkan kadar trombosit pada kondisi trombositopenia, khususnya pada pasien demam berdarah dengue. Secara mekanisme biokimia farmasi, aktivitas jeruk purut terutama bekerja melalui penghambatan enzim siklooksigenase dan lipoksigenase yang menurunkan produksi prostaglandin sebagai mediator nyeri dan inflamasi, serta melalui aktivitas antioksidan senyawa fenoliknya. Daun ubi jalar bekerja melalui mekanisme penangkapan radikal bebas dan stimulasi faktor pertumbuhan hematopoietik seperti granulocyte-macrophage colony-stimulating factor (GM-CSF) dan interleukin-3 (IL-3) yang berperan dalam pembentukan trombosit. Kajian ini bertujuan untuk menelaah kandungan biokimia, mekanisme biokimia farmasi, serta potensi farmasi jeruk purut dan daun ubi jalar berdasarkan studi literatur dari berbagai penelitian eksperimental dan klinis. Hasil kajian menunjukkan bahwa kedua tanaman tersebut memiliki aktivitas farmakologis yang saling melengkapi dan berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku fitofarmaka, baik sebagai agen analgesik, antiinflamasi, antioksidan, maupun terapi pendukung berbasis bahan alam yang relatif aman.