Pelayanan diakonia tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan material, tetapi juga menyangkut pemulihan martabat manusia melalui relasi yang saling menguatkan. Program Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan di Gereja Methodist Misi Injili, yang terdiri dari ±100 jemaat (30 kepala keluarga) dengan latar belakang ekonomi tidak stabil. Kegiatan meliputi edukasi pengelolaan keuangan sederhana, diskusi kelompok kecil, dan pembagian paket sembako sebagai bentuk dukungan jangka pendek. Metode yang digunakan adalah pendekatan edukatif–partisipatif dengan observasi kualitatif untuk melihat dinamika perubahan sosial di dalam komunitas. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa hambatan terbesar bukan terletak pada minimnya pengetahuan finansial atau kurangnya sumber daya ekonomi, melainkan pada ketiadaan ruang aman untuk percakapan jujur mengenai pergumulan hidup. Diskusi kelompok kecil membuka ruang sosial baru yang memicu perubahan sikap dari pasif menjadi mulai terbuka, meskipun masih pada tahap embrionik. Perubahan atmosfer emosional ini menjadi tanda awal terbentuknya solidaritas dan kesadaran kolektif sebagai tubuh Kristus yang saling memikul beban. Temuan ini menegaskan bahwa membangun ruang aman dialog merupakan fondasi penting bagi diakonia transformatif, di mana relasi dan dukungan spiritual menjadi dasar pemberdayaan ekonomi. Program ini menjadi langkah awal bagi pengembangan model pendampingan berkelanjutan melalui forum dialog rutin dan kolaborasi gereja–kampus–komunitas. Hasil penelitian ini menawarkan kontribusi bagi praktik pelayanan gereja dan pengembangan strategi PkM berbasis relasi dan pemulihan martabat.