Tebing Lowo yang terletak di Desa Pongangan, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, merupakan kawasan bersejarah peninggalan Kerajaan Majapahit dengan potensi pengembangan wisata yang berbasis budaya dan ekologi, salah satunya keberadaan Goa Lowo yang menjadi identitas desa dan destinasi wisata yang menarik minat pengunjung. Namun keberadaan wilayah ini mengalami penurunan kualitas wisata akibat dari penurunan populasi kelelawar karena perkembangan permukiman yang semakin padat, serta adanya lahan bekas pertambangan kapur yang ditinggalkan tanpa pengelolaan. Oleh sebab itu, diperlukan pendampingan dalam perencanaan konsep desain wisata berbasis sustainable tourism. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskripsi kualitatif dengan pendekatan sustainable tourism. Pengumpulan data meliputi observasi lapangan, analisis kondisi fisik lahan tambang, wawancara dengan masyarakat sekitar, serta kajian literatur mengenai pengembangan desain wisata. Konsep desain yang dihasilkan menekankan pemanfaatan elemen alami seperti tebing kapur dan Goa Lowo sebagai daya tarik utama, disertai penerapan prinsip sustainable tourism rendah emisi, material ramah lingkungan, dan tata sirkulasi yang adaptif terhadap kontur. Konsep Desain wisata terbagi menjadi tiga zona desain, yaitu : zona utama ekonomi, zona budaya dan sosial. Hasil konsep desain wisata Tebing Lowo dapat dioptimalkan sebagai destinasi wisata berkelanjutan, dengan perencanaan desain secara holistik, partisipatif, dan berorientasi jangka panjang, sehingga mampu menciptakan nilai ekologis, edukatif, dan ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat Gresik.