Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Nilai Maskulinitas dalam Simbolisme Gerak Jepin Cangkah Pedang: Ekspresi Identitas Lelaki Melayu Pontianak Imma Fretisari; Deni Slamet; Peri Rakhmadi; Nurbaiti, Nurbaiti; Mega Cantik Putri Aditya
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 1 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Enam (6) Negara: Indonesia, Malaysia, Chin
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v12i1.7697

Abstract

Penelitian ini membahas nilai-nilai maskulinitas dalam Jepin Cangkah Pedang sebagai representasi identitas lelaki Melayu Pontianak. Kajian ini berangkat dari fenomena pergeseran makna maskulinitas akibat modernisasi dan globalisasi budaya yang menimbulkan stereotip terhadap peran laki-laki dalam seni tari. Penelitian bertujuan untuk menganalisis simbolisme gerak dalam Jepin Cangkah Pedang serta memahami bagaimana nilai-nilai maskulinitas diwujudkan dan dipertahankan dalam konteks sosial budaya masyarakat Melayu. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi terhadap pencipta, penggiat seni, serta akademisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jepin Cangkah Pedang memanifestasikan nilai maskulinitas melalui keseimbangan antara kekuatan dan kendali diri yang terepresentasi dalam gerak berpola silat dan penggunaan properti pedang serta cangkah. Tarian ini memuat lima nilai utama: keberanian, kehormatan, kendali diri, kepemimpinan, dan kebijaksanaan. Kelima nilai tersebut menegaskan peran lelaki Melayu sebagai penjaga marwah, pelindung komunitas, dan penegak etika sosial. Melalui struktur gerak yang terukur, disiplin tubuh, dan koordinasi ritmis, tarian ini berfungsi sebagai media pendidikan budaya yang menanamkan tanggung jawab moral dan kesadaran sosial. Secara kultural, Jepin Cangkah Pedang berperan sebagai ruang resistensi terhadap pergeseran nilai gender modern sekaligus sarana pelestarian identitas maskulin Melayu Pontianak. Tarian ini memperlihatkan bahwa kelelakian bukan ekspresi kekuasaan, tetapi wujud keseimbangan antara tenaga, kebijaksanaan, dan kehormatan dalam menjalankan tanggung jawab sosial dan budaya.