Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki wilayah pesisir yang luas. Taman Nasional Sembilang yang terletak di wilayah pesisir timur Provinsi Sumatera Selatan Indonesia memiliki fenomena perubahan garis pantai sebagai dampak dari proses alam maupun aktivitas manusia. Kawasan Taman Nasional Sembilang adalah kawasan konservasi dengan karakteristik ekosistem mangrove dan delta yang rentan terhadap abrasi serta akresi. Deteksi perubahan garis pantai secara berkala harus dilakukan untuk mendukung pengelolaan pesisir yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi dan menganalisis perubahan garis pantai di Taman Nasional Sembilang melalui integrasi penginderaan jauh dan sistem informasi geografis (SIG) dengan pendekatan Normalized Difference Water Index (NDWI) dan Digital Shoreline Analysis System (DSAS) menggunakan citra satelit landsat 8 (2023) dan landsat 9 (2024). NDWI digunakan untuk mengekstraksi batas air dan daratan, sedangkan DSAS digunakan untuk menghitung laju abrasi dan akresi berdasarkan parameter End Point Rate (EPR), Net Shoreline Movement (NSM) dan Shoreline Change Envelope (SCE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah taman nasional sembilang mengalami abrasi dengan rata-rata -12,87 m/tahun, sedangkan akresi dengan rata-rata mencapai 96,23 m/tahun. Rata-rata laju abrasi -11,52 m/tahun dan rata-rata laju akresi sebesar 86,09 m/tahun. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa dalam satu tahun terakhir daratan lebih banyak bertambah karena garis pantai lebih besar ke arah laut. Integrasi penginderaan jauh dengan metode NDWI dan pengolahan berbasis DSAS dalam lingkup SIG terbukti efektif dalam mendeteksi perubahan garis pantai secara spasial dan temporal serta dapat dijadikan dasar pemantauan kawasan konservasi pesisir secara berkelanjutan.