Penelitian ini bertujuan untuk membongkar secara kritis bagaimana praktik diplomasi publik di zaman Post-Truth telah mendistorsi "wujud asli" dari diplomasi publik itu sendiri yang memiliki tatanan nilai-nilai, makna dan juga karakter dialogisnya menuju ke arah praktik propaganda yang manipulatif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang fokus pada pemaknaan dan representasi dari pada praktik-praktik diplomasi publik, serta menggunakan analisis wacana atau menampilkan beberapa studi kasus dan mengkaji fenomena dalam konteks era Post-Truth dengan cara yang kritis. Penelitian ini menggunakan teori diplomasi publik serta pengembangan dari teori diplomasi publik hingga kini, lalu teori diplomasi publik pada akhirnya disejajarkan dengan teori propaganda, karena dalam kerangka teorinya, tulisan ini membahas bagaimana diplomasi publik bertansformasi menjadi propaganda. Temuan dari penelitian ini sesuai dengan penjelasan teori sebelumnya, yakni praktik diplomasi publik di era post-truth tidak lagi berfokus pada dialog dua arah untuk menciptakan kesepahaman bersama, melainkan fokus kepada persuasi satu arah, melakukan seleksi terhadap fakta dan melakukan secara sadar melakukan rekayasa terhadap persepsi, hasilnya adalah diplomasi publik masa kini telah terjebak dalam propaganda, strategi komunikasi yang dilakoni oleh pemerintah merupakan kendaraan utama untuk menghegemoni, terlihat nampak halus nan etis dalam praktiknya tetapi nyatanya diselipi propaganda. Artinya, diplomasi publik di era post-truth semakin sulit dibedakan dari kegiatan propaganda atau bahkan dapat dikatakan diplomasi publik adalah terminologi lain dari propaganda.