Mas'ulah, Mas'ulah
Universitas Muhammadiyah Surabaya

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

MAKNA SIMBOL TOKOH UTAMA DALAM NOVEL BIOLA TAK BERDAWAI KARYA SEKAR AYU ASMARA Sahara, La; Mas'ulah, Mas'ulah
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.9013

Abstract

ABSTRACT The novel Biola Tak Berdawai by Sekar Ayu Asmara raises humanitarian issues related to child abandonment and the dehumanization of persons with disabilities through the symbolization of the main character. This study aims to analyze the symbolic meanings attached to the character Dewa and to interpret the author’s message through a semiotic approach. The research uses a qualitative method with Charles Sanders Peirce’s semiotic analysis (icon, index, and symbol) of the novel text through the stages of identification, classification, and interpretation of denotative and connotative meanings. The results show that the character Dewa is constructed through five main symbols, namely Sukasrana, the metamorphosis of caterpillar–chrysalis–butterfly, the shell, the doll, and the violin without strings as the central symbol. The dominance of the symbolic category of signs indicates the strong use of cultural conventions and metaphors in the construction of meaning. These symbols reveal social criticism of the marginalization of persons with disabilities while conveying humanistic-spiritual messages about the value of life, the potential for transformation, and the recognition of human dignity. The conclusion of the study confirms that the symbolization of the main character becomes an effective medium for linking fictional reality with actual social issues and for reflecting on the meaning of life within limitations. ABSTRAK Novel Biola Tak Berdawai karya Sekar Ayu Asmara mengangkat persoalan kemanusiaan yang berkaitan dengan pembuangan anak dan dehumanisasi penyandang disabilitas melalui simbolisasi tokoh utama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna simbolik yang melekat pada tokoh Dewa serta menafsirkan pesan pengarang melalui pendekatan semiotik. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan analisis semiotik Charles Sanders Peirce (ikon, indeks, dan simbol) terhadap teks novel melalui tahapan identifikasi, klasifikasi, dan interpretasi makna denotatif serta konotatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Dewa dibangun melalui lima simbol utama, yaitu Sukasrana, metamorfosis ulat–kepompong–kupu, kerang, boneka, dan biola tanpa dawai sebagai simbol sentral. Dominasi kategori tanda simbol menunjukkan kuatnya penggunaan konvensi budaya dan metafora dalam konstruksi makna. Simbol-simbol tersebut mengungkap kritik sosial terhadap marginalisasi penyandang disabilitas sekaligus menyampaikan pesan humanistik-spiritual tentang nilai hidup, potensi transformasi, dan pengakuan atas martabat manusia. Simpulan penelitian menegaskan bahwa simbolisasi tokoh utama menjadi medium efektif untuk mengaitkan realitas fiksi dengan isu sosial aktual serta merefleksikan makna hidup dalam keterbatasan.
Peningkatan Kosakata Bahasa Inggris Siswa Kelas VII C SMPN 36 Surabaya dengan Menggunakan Running Dictation dan Game Berbasis Teknologi Digital Ririn Rindayani; Mas’ulah; Yuniarti
PROCEEDING UMSURABAYA Poceding Fakultas Keguruan dan ilmu Pendidikan 2026 " Intregrasi Deep Learning dan Tekbnologi AI dal
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/pc.v1i1.28117

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan penguasaan kosakata Bahasa inggris kelas VII C SMPN 36 Surabaya melalui penggunaan game Running Dictation dan game berbasis teknologi digital. Penelitian melibatkan 23 siswa sebagai partisipan dengan mengintegrasikan penggunaan Running Dictation dan Game Berbasis Teknologi Digital dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Pendekatan ini dirancang untuk menciptakan suasana belajar yang aktif, menyenangkan, dan mendorong partisipasi siswa secara optimal. Analisis data hasil tes kosakata Bahasa Inggris dilaksakan secara kuantitatif dengan menghitung jumlah siswa yang tuntas dari hasil tes kosakata Bahasa Inggris yang menunjukkan adanya peningkatan ketuntasan hasil tes dari 30% di siklus I menjadi 78% di siklus II. Dengan pendekatan yang lebih menyenangkan dan partisipatif, siswa lebih termotivasi untuk belajar dan mengalami peningkatan hasil tes pada setiap siklus. Kemudian, hasil angket menunjukkan keterlibatan dan minat siswa yang tinggi dalam Pelajaran Bahasa Inggris. Penggunaan game edukatif ini tidak hanya meningkatkan hasil tes, tetapi juga meningkatkan minat, mendorong interaksi, kerja sama antarsiswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan Running Dictation dan Game berbasis digital mampu meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran serta meningkatkan kosakata Bahasa Inggris siswa.
enerapan Pendekatan Culturally Responsive Teaching untuk Meningkatkan Minat dan Hasil Belajar Bahasa Inggris Peserta Didik Kelas 7D SMPN 36 Surabaya Adjie Aditya Sanjaya; Mas’ulah; Yuniarti
PROCEEDING UMSURABAYA Poceding Fakultas Keguruan dan ilmu Pendidikan 2026 " Intregrasi Deep Learning dan Tekbnologi AI dal
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/pc.v1i1.28119

Abstract

Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan untuk mengevaluasi keefektivan pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) dalam pembelajaran Bahasa Inggris dengan materi School Buildings terhadap peningkatan hasil belajar serta minat belajar Bahasa Inggris peserta didik kelas VII-D di SMP Negeri 36 Surabaya. Penelitian ini melibatkan 26 peserta didik sebagai partisipan dan dilaksanakan dalam dua siklus pembelajaran, yang mengintegrasikan unsur budaya lingkungan sekolah ke dalam materi pembelajaran. Analisis data hasil belajar dilaksanakan secara kuantitatif dengan menghitung rata-rata nilai ujian peserta didik, yang menunjukkan adanya peningkatan signifikan dari 65,77% di siklus 1 menjadi 87,20% pada siklus II. Di samping itu, hasil kuisioner mengenai minat belajar juga menunjukkan bahwa peserta didik juga menunjukkan bahwa peserta didik memiliki minat belajar yang sangat tinggi terhadap pelajaran Bahasa Inggris. Aspek-aspek minat yang teridentifikasi meliputi perhatian, keterlibatan aktif, rasa ingin tahu, serta pandangan terhadap kebermanfaatan pelajaran. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan CRT berhasil menciptakan suasana belajar yang selaras dengan latar belakang peserta didik, sehingga mampu untuk meningkatkan minat serta pencapaian belajar peserta didik dalam mata pelajaran Bahasa Inggris.
Meningkatkan Minat Belajar Bahasa Inggris melalui Pendekatan Game-Based Learning pada Siswa Kelas VII-A SMPN 36 Surabaya Sekar Habiballoh Novandari; Mas’ulah; Yuniarti
PROCEEDING UMSURABAYA Poceding Fakultas Keguruan dan ilmu Pendidikan 2026 " Intregrasi Deep Learning dan Tekbnologi AI dal
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/pc.v1i1.28120

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan minat belajar Bahasa Inggris siswa kelas VII-A SMPN 36 Surabaya melalui pendekatan Game-Based Learning (GBL). Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus menggunakan model Kemmis dan McTaggart, yang terdiri atas tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Instrumen pengumpulan data meliputi angket minat belajar dengan skala Likert, lembar observasi, dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan GBL dapat meningkatkan minat belajar siswa. Pada siklus I, sebanyak 24 dari 28 siswa valid (85,7%) mengalami peningkatan minat belajar. Pada siklus II, jumlah tersebut meningkat menjadi 25 dari 28 siswa (89,3%). Aktivitas pembelajaran berbasis permainan seperti Match-Up Cards Polite Expression dan kuis digital Zep Quiz terbukti menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, kompetitif, dan interaktif. Dengan demikian, penerapan GBL dinyatakan efektif dalam meningkatkan minat belajar siswa terhadap Bahasa Inggris.
Meningkatkan Pemahaman Membaca Bahasa Inggris Siswa Kelas VIII melaui Pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) Qoriatin Husnia Nurosida; Mas’ulah; Yuniarti
PROCEEDING UMSURABAYA Poceding Fakultas Keguruan dan ilmu Pendidikan 2026 " Intregrasi Deep Learning dan Tekbnologi AI dal
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/pc.v1i1.28129

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman membaca teks bahasa Inggris pada siswa melalui pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT). CRT merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan pada implementasi pembelajaran berdasarkan latar belakang budaya dan pengalaman siswa. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII-H di SMP Negeri 36 Surabaya semester genap tahun ajaran 2024/2025 yang berjumlah 32 siswa. Penelitian ini dilaksanakan selama dua siklus yang meliputi tahapan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi di setiap siklusnya. Teknik pengumpulan data menggunakan tes, survei, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman membaca siswa. Rata-rata nilai tes pemahaman membaca meningkat dari 51.5 pada pra-siklus menjadi 91.25 pada siklus 1, dan mencapai 95 pada siklus 2. Selain itu, jumlah siswa yang mencapai standar yang diberikan juga meningkat dari 25% pada pra-siklus menjadi 87.5% pada siklus 1, dan 95.8% pada siklus 2. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) efektif dalam meningkatkan pemahaman membaca siswa.
MENINGKATKAN KEMAMPUAN GRAMMAR “SIMPLE PAST TENSE” SISWA KELAS 8 MELALUI METODE GAMIFIKASI Sintaloka Trya Dewanti; Mas’ulah; Yuniarti
PROCEEDING UMSURABAYA Poceding Fakultas Keguruan dan ilmu Pendidikan 2026 " Intregrasi Deep Learning dan Tekbnologi AI dal
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/pc.v1i1.28138

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap simple past tense melalui penerapan strategi game-based learning dengan permainan “Past Tense Treasure Hunt”. Latar belakang penelitian ini adalah rendahnya pemahaman siswa kelas VIII-G SMPN 36 Surabaya terhadap penggunaan simple past tense dalam recount text, yang tercermin dari nilai rata-rata pre-test sebesar 52,33. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan kuantitatif yang dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian berjumlah 30 siswa di kelas 8-G SMPN 36 Surabaya. Pengumpulan data dilakukan melalui Google Form yang digunakan untuk mengukur hasil pre-test dan post-test siswa. Pada siklus I, nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 82,9 dan pada siklus II mencapai 88,33. Hasil ini menunjukkan bahwa penerapan game-based learning mampu meningkatkan pemahaman siswa secara signifikan. Strategi pembelajaran ini juga meningkatkan motivasi dan partisipasi aktif siswa selama proses belajar. Dengan demikian, metode ini efektif untuk digunakan sebagai pendekatan inovatif dalam pembelajaran tata bahasa Bahasa Inggris di tingkat SMP.
Analisis Nilai Kemanusiaan Dalam Puisi “Aku” Karya Chairil Anwar: Kajian Kritik Sastra Mimetik Indah Purmasari; Mas’ulah
MEMACE: Jurnal Linguistik, Pendidikan Bahasa Indonesia, dan Asing Vol. 2 No. 1 (2024): MEMACE: Jurnal Linguistik, Pendidikan Bahasa Indonesia, dan Asing
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/memace.v2i1.6586

Abstract

Puisi "Aku" karya Chairil Anwar yang lahir pada era pendudukan Jepang (sekitar tahun 1943) merupakan salah satu urat nadi sastra modern Indonesia. Di balik bentuk estetika bahasanya yang mendobrak rima lama, puisi ini menyimpan rekaman psikologis dan sosiologis masyarakat yang tertindas. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya melihat puisi bukan sekadar sebagai ekspresi individualistis pengarang, melainkan sebagai sebuah respons radikal terhadap kondisi kemanusiaan pada masanya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif melalui analisis tekstual, hasil kajian menunjukkan bahwa puisi "Aku" tidak sekadar bentuk pemberontakan individualistis egois, melainkan sebuah manifestasi perjuangan eksistensial manusia. Nilai kemanusiaan yang ditemukan meliputi hak atas kebebasan mutlak, keteguhan martabat di tengah penderitaan, serta optimisme dan vitalitas hidup yang melampaui kematian fisik. Puisi ini menjadi cermin realitas psikologis manusia yang mendamba kemandirian dan emansipasi jiwa dari kungkungan belenggu zaman.
MAKNA SIMBOL TOKOH UTAMA DALAM NOVEL BIOLA TAK BERDAWAI KARYA SEKAR AYU ASMARA La Sahara; Mas'ulah Mas'ulah
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.9013

Abstract

ABSTRACT The novel Biola Tak Berdawai by Sekar Ayu Asmara raises humanitarian issues related to child abandonment and the dehumanization of persons with disabilities through the symbolization of the main character. This study aims to analyze the symbolic meanings attached to the character Dewa and to interpret the author’s message through a semiotic approach. The research uses a qualitative method with Charles Sanders Peirce’s semiotic analysis (icon, index, and symbol) of the novel text through the stages of identification, classification, and interpretation of denotative and connotative meanings. The results show that the character Dewa is constructed through five main symbols, namely Sukasrana, the metamorphosis of caterpillar–chrysalis–butterfly, the shell, the doll, and the violin without strings as the central symbol. The dominance of the symbolic category of signs indicates the strong use of cultural conventions and metaphors in the construction of meaning. These symbols reveal social criticism of the marginalization of persons with disabilities while conveying humanistic-spiritual messages about the value of life, the potential for transformation, and the recognition of human dignity. The conclusion of the study confirms that the symbolization of the main character becomes an effective medium for linking fictional reality with actual social issues and for reflecting on the meaning of life within limitations. ABSTRAK Novel Biola Tak Berdawai karya Sekar Ayu Asmara mengangkat persoalan kemanusiaan yang berkaitan dengan pembuangan anak dan dehumanisasi penyandang disabilitas melalui simbolisasi tokoh utama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna simbolik yang melekat pada tokoh Dewa serta menafsirkan pesan pengarang melalui pendekatan semiotik. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan analisis semiotik Charles Sanders Peirce (ikon, indeks, dan simbol) terhadap teks novel melalui tahapan identifikasi, klasifikasi, dan interpretasi makna denotatif serta konotatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Dewa dibangun melalui lima simbol utama, yaitu Sukasrana, metamorfosis ulat–kepompong–kupu, kerang, boneka, dan biola tanpa dawai sebagai simbol sentral. Dominasi kategori tanda simbol menunjukkan kuatnya penggunaan konvensi budaya dan metafora dalam konstruksi makna. Simbol-simbol tersebut mengungkap kritik sosial terhadap marginalisasi penyandang disabilitas sekaligus menyampaikan pesan humanistik-spiritual tentang nilai hidup, potensi transformasi, dan pengakuan atas martabat manusia. Simpulan penelitian menegaskan bahwa simbolisasi tokoh utama menjadi medium efektif untuk mengaitkan realitas fiksi dengan isu sosial aktual serta merefleksikan makna hidup dalam keterbatasan.
Comparison of Elementary School, High School, and Teenage Students' Receptions to Modern Indonesian Literature in East Nusa Tenggara Orance Ferderika Balan; Mas'ulah Mas'ulah
Journal of Literary Prose and Society Vol. 3 No. 1 (2026): Journal of Literary Prose and Society
Publisher : Politeknik Siber Cerdika Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59261/jlps.v3i1.52

Abstract

Background: The development of literacy education in Indonesia highlights the need to understand how readers from diverse age groups engage with literary texts, particularly in culturally rich regions such as East Nusa Tenggara. Objective: This study analyzes readers' reception of modern Indonesian literature among three age groups in East Nusa Tenggara: elementary school students, senior high school students, and general youth. Methods: A descriptive qualitative approach was employed using Likert-scale questionnaires, semi-structured interviews, and participatory observation. Quantitative data were analyzed descriptively, while qualitative data underwent thematic coding with triangulation validation. Results: Reception develops according to age and social context. Elementary school students emphasize moral values such as honesty and learning motivation. Senior high school students engage more critically with narrative conflict and character development. General youth readers offer reflective interpretations centered on cultural values and local identity. The honesty aspect obtained the highest Likert mean (M = 4.30), followed by learning motivation (M = 4.21) and empathy (M = 4.18). Implications: Modern Indonesian literature serves as an adaptive medium for fostering literacy, character development, and cultural identity across age groups. Literary integration in educational contexts should consider readers' developmental characteristics to maximize its educational and cultural impact.