Kasus kematian Brigadir Nurhadi pada April 2025 di Gili Trawangan mendapat sorotan luas dari media daring nasional. Namun, pemberitaan media seperti Tribunnews.com dan Detik.com cenderung menonjolkan sosok perempuan bernama Misri, salah satu tersangka, dibandingkan fokus pada substansi kasus pembunuhan itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis framing pemberitaan misri pada kasus kematian brigadir nurhadi dalam berita di media online tribunnews dan detik.com. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma konstruktivis dan metode analisis framing model Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki, dengan empat perangkat struktur analisis: sintaksis, skrip, tematik, dan retoris. Data primer diperoleh dari berita di Tribunnews.com dan Detik.com, sedangkan data sekunder berasal dari literatur akademik seperti buku, jurnal, penelitian terdahulu, tesis, dokumen, yang berkaitan dengan penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tribunnews.com dan Detik.com dalam membuat pemberitaan lebih memberi penonjolan pada Misri yang disebut-sebut sebagai salah satu tersangka kasus kematian Brigadir Nurhadi. Pada dua berita dari Tribunnews.com dan dua berita dari Detik.com lebih banyak mengekspose identitas dan latar belakang Misri dibanding membahas tentang kasus kematian Brigadir Nurhadi. Padahal dalam kasus tersebut, terduga penganiayaan yang berujung pembunuhan adalah Kompol Yogi dan Kompol Haris selaku atasan Brigadi Nurhadi. Kesimpulannya bahwasanya sorotan pemberitaan lebih diarahkan pada sosok Misri, yaitu tersangka perempuan, dibandingkan pada substansi peristiwa kriminal itu sendiri. Selain itu framing media dalam kasus pembunuhan Brigadir Nurhadi menunjukkan adanya bias gender yang kuat, di mana sosok Misri lebih di tonjolkan dari inti kasus sebagai tersangka perempuan.