Kadek Listia Prasetya Dewi
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Aromaterapi Kayu Manis (Cinnamomum) sebagai Terapi Komplementer Dismenore: Systematic Review Sari, Nyoman Ratih Widya; Made Dinda Pratiwi; Kadek Listia Prasetya Dewi; Dewa Ayu Aryantika Anggraeni; Ni Nyoman Ayu Trisna Anggarini; Ni Putu Ayu Daneswari Dewi
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 2 (2025): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.2 (2025)
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i2.900

Abstract

Pendahuluan: Dismenore merupakan nyeri menstruasi yang umum dialami perempuan usia reproduktif dan berdampak terhadap kualitas hidup. Meskipun terapi konvensional seperti OAINS cukup efektif meredakan keluhan nyeri, penggunaannya berisiko menimbulkan efek samping. Hal ini mendorong intervensi tambahan berupa terapi komplementer. Salah satunya yaitu aromaterapi kayu manis (Cinnamomum) yang mengandung cinnamaldehyde dan eugenol dengan efek analgesik, anti-inflamasi, dan antispasmodik. Metode: Penelitian ini merupakan systematic review berbasis pedoman PRISMA dengan menganalisis jurnal ilmiah berbahasa Indonesia dan Inggris dalam rentang 2020–2025 yang diakses melalui Google Scholar dan PubMed. Pembahasan: Dari 1.837 artikel yang ditelusuri, terdapat 5 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan menunjukkan efektivitas aromaterapi kayu manis dalam menurunkan intensitas nyeri dismenore secara signifikan. Simpulan: Aromaterapi kayu manis berpotensi sebagai terapi komplementer dismenore. Penerapannya secara luas membutuhkan dukungan dari berbagai sektor, guna mendukung implementasi klinis yang tepat dan berkelanjutan.
Terapi Musik Klasik sebagai Intervensi Komplementer Wellnes Tourism dalam Menurunkan Stres dan Hipertensi bagi Pelaku Wisata Kadek Listia Prasetya Dewi; Made Bayu Permasutha; Nyoman Ratih Widya Sari; Ni Putu Ayu Daneswari Dewi; Dewa Ayu Aryantika Anggraeni; Ni Nyoman Ayu Trisna Anggarini
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 2 (2025): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.2 (2025)
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i2.920

Abstract

Pendahuluan: Pariwisata global meningkat hingga 1,3 miliar pada tahun 2023 hingga mendorong berkembangnya wellness tourism. Para pelaku wisata rentan mengalami stres dan hipertensi akibat kegiatan wisata yang kompleks. Kondisi ini ternyata memerlukan terapi komplementer selain pengobatan utama, sehingga membuka peluang bagi pemanfaatan terapi nonfarmakologis. Salah satunya adalah terapi musik klasik yang dinilai sederhana. Studi ini bertujuan untuk meninjau potensi musik klasik sebagai terapi komplementer stres dan hipertensi serta penerapannya dalam wellness tourism. Metode: Studi ini menggunakan metode narrative literature review dengan pendekatan sistematis terhadap literatur yang dikumpulkan melalui penelusuran sistematis di beberapa basis data daring seperti PubMed, National Center for Complementary and Integrative Health (NCCIH), ScienceDirect, dan Google Scholar menggunakan kata kunci: “complementary therapy”, “wellness tourism”, “classical music therapy”, “stress reduction”, dan “hypertension”. Pembahasan: Musik klasik dengan tempo lambat mampu menstimulasi sistem saraf parasimpatis sehingga menurunkan stres dan tekanan darah. Sejumlah penelitian mendukung penggunaannya sebagai terapi komplementer bagi pelaku wisata dan masyarakat. Integrasi musik klasik dalam wellness tourism dapat menjadi strategi sederhana dan efektif dalam menurunkan stres dan hipertensi. Simpulan: Integrasi musik klasik sebagai terapi komplementer stres dan hipertensi berpotensi meningkatkan kesehatan holistik pelaku wisata. Kolaborasi tenaga kesehatan dan penyedia wisata sangat penting untuk mendukung implementasi ini, khususnya dalam pengembangan pariwisata kesehatan berbasis kearifan lokal.