Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Hubungan Paparan Panas Lingkungan Kerja terhadap Tingkat Konsentrasi Pekerja di PT. X Adinur, Bima; Utama, Winda Trijayanthi; Irawati, Nur Ayu Virginia; Sutarto
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 3 (2026): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.3 (2026) : Article i
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i3.1099

Abstract

Pendahuluan: Aktivitas industri di wilayah tropis memiliki risiko paparan panas tinggi yang berpotensi meningkatkan suhu inti tubuh dan menurunkan kemampuan kognitif pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara paparan panas lingkungan kerja dengan gangguan konsentrasi pada pekerja di PT X. Metode: Penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional ini melibatkan 70 pekerja yang dipilih melalui teknik total sampling. Variabel bebas berupa paparan panas diukur menggunakan indeks Wet Bulb Globe Temperature (WBGT), sedangkan gangguan konsentrasi diukur menggunakan Grid Concentration Test (GCT). Studi ini memberikan kontribusi signifikan dalam evaluasi risiko K3 pada lingkungan kerja panas. Hasil: Mayoritas pekerja (65,7%) terpapar panas melebihi Nilai Ambang Batas (>NAB) dan 42,8% mengalami gangguan konsentrasi kategori kurang hingga sangat kurang. Analisis bivariat menunjukkan hubungan signifikan antara paparan panas dengan gangguan konsentrasi (p=0,001), di mana paparan >NAB berkorelasi dengan konsentrasi yang lebih rendah. Pembahasan: Temuan ini sejalan dengan pustaka yang ada bahwa beban panas berlebih mengganggu mekanisme termoregulasi tubuh yang berdampak pada penurunan fokus dan fungsi kognitif tanpa memerlukan sitasi spesifik. Simpulan: Tekanan panas lingkungan merupakan faktor determinan yang berkorelasi signifikan dengan penurunan performa konsentrasi pekerja, sehingga diperlukan intervensi pengendalian iklim kerja dan manajemen waktu istirahat.