Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

HUBUNGAN KADAR HbA1c DENGAN GLUKOSA DARAH SEWAKTU PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II DI RSUD KOTA KENDARI Sapril Kartini; Andi Asri; Wa Ode Belasi
Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol. 9 No. 2 (2025): JURNAL MEDILAB MANDALA WALUYA
Publisher : Prodi D4 Teknologi Laboratorium Medis, Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/medilab.v9i2.1418

Abstract

Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit tidak menular yang termasuk dalam gangguan metabolik. Penyakit ini ditandai dengan hiperglikemia kronis yang disebabkan oleh gangguan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Hemoglobin A1c (HbA1c) adalah bentuk hemoglobin yang mengalami modifikasi pasca-translasi melalui ikatan glukosa stabil pada gugus N-terminal rantai HbA0. Glukosa darah adalah glukosa dalam darah yang terbentuk dari karbohidrat yang terdapat dalam makanan dan disimpan sebagai glikogen di dalam hati dan otot rangka. Faktor yang mempengaruhi kadar glukosa darah ada 2, yaitu faktor endogen dan eksogen. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan kadar HbA1c dengan glukosa darah sewaktu pada pasien diabetes melitus tipe ll di RSUD Kota Kendari. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif analitik dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional). Populasi penelitian berjumlah 25 orang, dengan jumlah sampel yang ditentukan menggunakan rumus Slovin sehingga diperoleh 20 pasien rawat jalan dengan diabetes melitus tipe II di RSUD Kota Kendari. Pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu dilakukan menggunakan metode fotometri, sedangkan kadar HbA1c diperiksa menggunakan metode Fluorescence-based Lateral Flow Immunoassay. Berdasarkan hasil penelitian, dari 20 pasien diabetes melitus tipe II di RSUD Kota Kendari, sebanyak 9 orang pasien (45%) berjenis kelamin laki-laki dan 11 orang pasien dengan (55%) berjenis kelamin perempuan. Berdasarkan distribusi usia, 4 orang pasien dengan presentase (20%) berusia 40–50 tahun, 6 orang pasien dengan prsesentase (30%) berusia 51–60 tahun, 8 orang pasien dengan presentase (40%) berusia 61–70 tahun, dan 2 orang pasien dengan presentase (10%) berusia 70-080 tahun. Hasil analisis statistik menggunakan uji Spearman menunjukkan koefisien korelasi sebesar 0,746 dengan nilai signifikansi (p) = 0,000 (p < 0,01). Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang kuat dan signifikan secara statistik antara kadar HbA1c dengan kadar glukosa darah sewaktu pada pasien diabetes melitus tipe II di RSUD Kendari. Kesimpulan penelitian ini berdasarkan uji statistik Spearman diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,746 dengan nilai signifikansi (p) = 0,000 (p < 0,01). Hal ini membuktikan terdapat hubungan yang kuat dan signifikan secara statistik antara kadar HbA1c dengan kadar glukosa darah sewaktu pada pasien diabetes melitus tipe II di RSUD Kendari.