Pemberian ASI eksklusif masih menjadi tantangan global, termasuk di Kuwait. Meskipun 94% ibu di Kuwait mulai memberikan ASI saat lahir, hanya 10% yang mempertahankan pemberian ASI eksklusif hingga enam bulan, jauh di bawah target WHO sebesar 50% pada tahun 2025. Pengetahuan ibu yang terbatas tentang manfaat menyusui dan dukungan medis yang tidak mampu merupakan hambatan yang signifikan. Bayi yang tidak menerima ASI eksklusif menangani peningkatan risiko infeksi pernapasan, gangguan pencernaan, dan sistem kekebalan tubuh yang melemah. Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah Kuwait telah menerapkan inisiatif, seperti kampanye kesadaran dan program yang berfokus pada rumah sakit ramah bayi, untuk meningkatkan pemahaman ibu dan masyarakat tentang pemberian ASI eksklusif. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan bukti mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku ibu dalam pemberian ASI eksklusif dan berkontribusi pada pengalaman dan mekanisme dukungan yang lebih baik untuk meningkatkan tingkat pemberian ASI eksklusif. Metode penelitian ini menggunakan observasi penutup, yang dilakukan mengikuti kerangka kerja Arksey dan O'Malley, dengan menggunakan model PICO. Artikel yang diterbitkan antara tahun 2019 dan 2024 dalam bahasa Inggris dan Indonesia, dengan fokus pada pemberian ASI eksklusif, dipilih menggunakan Daftar Periksa Bagan Alir PRISMA. Data bersumber dari PubMed, Wiley, ScienceDirect, dan Google Scholar dengan kata kunci "(Faktor yang Mempengaruhi) DAN (ASI Eksklusif)". Studi yang memenuhi kriteria inklusi dinilai kualitasnya menggunakan pedoman Joanna Briggs Institute (JBI) dan menjalani penilaian kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wawasan terhadap lima penelitian mengidentifikasi tiga faktor kunci yang mempengaruhi perilaku ibu: pengetahuan ibu, sikap ibu, dan dukungan dari tenaga kesehatan. Faktor-faktor ini secara konsisten terbukti memainkan peran penting dalam keberhasilan pemberian ASI Eksklusif.