Perkembangan ilmu pengetahuan di era modern seringkali berorientasi pada prestasi akademik dan kemajuan teknologi, namun belum sepenuhnya diimbangi dengan pembentukan nilai-nilai spiritual dan moral. Kondisi ini telah menimbulkan krisis makna dan degradasi adab dalam dunia pendidikan. Dalam konteks ini, pemikiran para ulama klasik seperti Imam An-Nawawi relevan untuk dikaji ulang sebagai acuan paradigma keilmuan Islam yang beradab dan berorientasi pada ketakwaan. Penelitian ini berfokus pada kajian hakikat dan urgensi ilmu pengetahuan menurut Imam An-Nawawi dalam kitab Riyadus Salihin dan relevansinya terhadap pendidikan Islam kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode penelitian kepustakaan. Data primer bersumber dari kitab Riyadus Salihin, sedangkan data sekunder diperoleh dari buku-buku dan artikel ilmiah yang relevan. Teknik analisis data dilakukan melalui analisis isi untuk mengidentifikasi tema-tema utama yang berkaitan dengan konsep ilmu pengetahuan dan nilai-nilai etika ilmu pengetahuan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsep pengetahuan Imam An-Nawawi bersifat normatif-transformatif, artinya pengetahuan berasal dari wahyu, dipelajari dengan niat tulus, dipraktikkan dalam kehidupan, dan disebarluaskan untuk kepentingan masyarakat. Pengetahuan tidak dipahami sebagai pengetahuan yang bebas nilai, melainkan sebagai sarana untuk mengembangkan akhlak, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa paradigma ilmiah Imam An-Nawawi relevan untuk mengatasi tantangan pendidikan modern yang cenderung sekuler dan pragmatis. Implikasi penelitian ini menunjukkan perlunya reorientasi pendidikan Islam yang mengintegrasikan penguasaan pengetahuan dengan pengembangan adab dan karakter berdasarkan nilai-nilai spiritual Islam.