Transformasi pasar tradisional menuju format modern menghadirkan konsekuensi risiko finansial yang signifikan bagi penyewa stan, khususnya pada fase awal pembukaan usaha. Penelitian ini bertujuan untuk mengkonstruksi pola manajemen risiko finansial yang dikembangkan penyewa dalam merespons ketidakpastian modal, arus kas, dan volatilitas pendapatan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus interpretatif di Pasar Turi Baru, Surabaya. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif terbatas, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Temuan menunjukkan bahwa manajemen risiko finansial penyewa dibangun melalui tiga mekanisme utama: (1) strategi mitigasi berbasis pengalaman sebelumnya, (2) praktik fleksibilitas pembiayaan dan diversifikasi sumber modal, serta (3) adaptasi bertahap terhadap dinamika pasar melalui pengendalian skala usaha. Risiko tidak dipersepsikan semata sebagai ancaman finansial, tetapi sebagai bagian dari proses pembelajaran kewirausahaan dalam konteks transisi kelembagaan pasar tradisional-modern.Kontribusi penelitian ini terletak pada pengembangan kerangka konseptual mengenai konstruksi sosial manajemen risiko finansial pada sektor pasar rakyat modern, yang masih terbatas dalam literatur manajemen risiko berbasis UMKM. Implikasi praktis mencakup perlunya desain kebijakan pengelolaan pasar yang lebih sensitif terhadap kerentanan finansial penyewa pada fase inisiasi usaha.