Hasil yang diperoleh dalam analisis deskriptif menggambarkan pengaruh penerapan model turnamen permainan tim TGT. Berdasarkan tabel distribusi frekuensi 4.9 terlihat bahwa sebagian besar siswa pada kelas tes tahap F1 berkualifikasi tinggi yaitu sangat memenuhi syarat. 13 siswa yang mendapat nilai antara 0f 95-100. Sementara itu, satu siswa berkemampuan rendah memperoleh nilai rata-rata 75-80. Dan siswa sedang adalah 12 dan nilai rata-rata adalah 90-95. Sekaligus di kelas kontrol fase F2. Berdasarkan tabel distribusi frekuensi pada poin 4.10 terlihat bahwa sebagian besar siswa termasuk dalam kisaran rata-rata, atau sedang. Sembilan siswa dengan rata-rata 80–85. Sebaliknya, empat siswa dengan keterampilan yang tidak memadai memperoleh nilai rata-rata antara 70 dan 75. Selain itu, lima siswa yang sangat berbakat menerima rata-rata 95–100. Berdasarkan analisis pengujian hipotesis deskriptif terlihat bahwa analisis deskriptif menghasilkan nilai sig sebesar 0,000 dan kurang dari 0,05 sehingga menyebabkan penolakan ho dan penerimaan ha. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa pendidikan agama Islam menggunakan pendekatan pembelajaran kooperatif Team Games Tournament (TGT). mempunyai pengaruh pembelajaran yang lebih signifikan. Selain itu keputusannya juga ditunjukkan pada tabel thitung >. Untuk mencari nilai pada tabel tersebut Nilai T pada kelas eksperimen sebesar 86,144 > 0,05 dan nilai T pada kelas kontrol (F2) sebesar 57,608 > 0,05 karena peneliti menggunakan tabel distribusi t dengan taraf a = 0,05. Berdasarkan hasil kedua poin tersebut yaitu 86 144 > 57 608. Dengan demikian dapat dikatakan Ha diterima dan Ho ditolak. Perhitungan tersebut digunakan untuk menerapkan model pembelajaran Team Games Tournament (TGT) terhadap hasil belajar PAI SMAN 2 Bayang, bayang piiri, pesiri Selatan Tahap F dapat dipertimbangkan.