Dalam kehidupan sosial kontemporer, agama tidak hanya dipahami sebagai sistem kepercayaan normatif yang mengatur perilaku eksternal, tetapi juga sebagai pengalaman batin yang membentuk cara individu mengelola kecemasan, rasa bersalah, dan pencarian makna eksistensial. Kajian mutakhir psikologi agama menunjukkan bahwa religiusitas bersifat ambivalen, berfungsi sebagai sumber ketenangan sekaligus ruang ketegangan psikologis. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana pengalaman keberagamaan beroperasi sebagai mekanisme regulasi kecemasan dan pengendalian moral melalui perspektif psikoanalitik Sigmund Freud yang didialogkan dengan psikologi agama kontemporer. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif dengan analisis dokumen terhadap karya utama Freud dan literatur ilmiah terkini mengenai scrupulosity, negative religious coping, dan konflik keberagamaan. Data dianalisis menggunakan thematic analysis refleksif untuk mengidentifikasi pola makna berulang dalam pengalaman religius problematik. Hasil penelitian menunjukkan tiga tema utama, yaitu agama sebagai regulator kecemasan dan rasa bersalah moral, repetisi ritual yang dipicu pencarian kepastian moral, serta konflik eksistensial antara makna spiritual ideal dan pengalaman psikologis subjektif. Temuan ini menegaskan ambivalensi religiusitas yang dapat memberi struktur dan rasa aman sementara, namun juga berpotensi mempertahankan tekanan psikologis. Teoretis, penelitian ini mereposisi konsep agama sebagai obsessional neurosis dalam pemikiran Freud sebagai kerangka interpretatif non-reduksionis. Secara praktis, studi ini menekankan integrasi literasi kesehatan mental dalam pendidikan dan pendampingan keagamaan.