Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Concept of Asy-Syifā’ in the Qur’an: An Analysis of Surah An-Nahl Verse 69 from the Perspective of Tafsir Al-Misbah Mardhiah, Mardhiah; Husnaini, Husnaini; Fahreza, Bobby; Ibrahim, Muhammad Syahrial Razali
Electronic Journal of Education, Social Economics and Technology Vol 6, No 2 (2025)
Publisher : SAINTIS Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33122/ejeset.v6i2.1268

Abstract

The Qur'an, as the word of God, serves various purposes in life, including healing diseases (syifa). As-syifā' in the Qur'an describes the function of the Qur'an as a healer for diseases, both physical and spiritual. Asy-Syifā' in the perspective of M. Quraish Shihab's interpretation of al-Mishbah emphasizes that the healing referred to in the Qur'an is not only spiritual and moral in nature, but also includes the physical dimension. Quraish Shihab also highlights that healing does not come solely from God but must also be accompanied by human effort. The Qur'an, Surah An-Nahl, verse 69, Quraish Shihab, through the interpretation of Al-Misbah, bees and honey as symbols of moral and social examples, where honey is a healing gift, and bees are an image of creatures that are obedient, productive, and provide benefits to all. This study uses a literature review approach (library research), namely examining various academic sources such as books, scientific journals, research reports, and official documents relevant to Asy-Syifā’ in the Qur’an: Analysis of Surah An-Nahl Verse 69 from the Perspective of Al-Misbah's Interpretation. The purpose of this study is to examine honey as a treatment for physical ailments in Surah An-Nahl Verse 69
Agama Perspektif Sigmund Freud: An illusion of Obsession Fahreza, Bobby; Husnaini; Muhammad Jafar; Muhammad Al Mustafa; Darmadi
Jurnal Ilmu Multidisiplin Vol. 3 No. 4 (2025): Jurnal Ilmu Multidisplin (Januari-Maret 2025)
Publisher : Green Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jim.v3i4.1840

Abstract

Dalam kehidupan sosial kontemporer, agama tidak hanya dipahami sebagai sistem kepercayaan normatif yang mengatur perilaku eksternal, tetapi juga sebagai pengalaman batin yang membentuk cara individu mengelola kecemasan, rasa bersalah, dan pencarian makna eksistensial. Kajian mutakhir psikologi agama menunjukkan bahwa religiusitas bersifat ambivalen, berfungsi sebagai sumber ketenangan sekaligus ruang ketegangan psikologis. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana pengalaman keberagamaan beroperasi sebagai mekanisme regulasi kecemasan dan pengendalian moral melalui perspektif psikoanalitik Sigmund Freud yang didialogkan dengan psikologi agama kontemporer. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif dengan analisis dokumen terhadap karya utama Freud dan literatur ilmiah terkini mengenai scrupulosity, negative religious coping, dan konflik keberagamaan. Data dianalisis menggunakan thematic analysis refleksif untuk mengidentifikasi pola makna berulang dalam pengalaman religius problematik. Hasil penelitian menunjukkan tiga tema utama, yaitu agama sebagai regulator kecemasan dan rasa bersalah moral, repetisi ritual yang dipicu pencarian kepastian moral, serta konflik eksistensial antara makna spiritual ideal dan pengalaman psikologis subjektif. Temuan ini menegaskan ambivalensi religiusitas yang dapat memberi struktur dan rasa aman sementara, namun juga berpotensi mempertahankan tekanan psikologis. Teoretis, penelitian ini mereposisi konsep agama sebagai obsessional neurosis dalam pemikiran Freud sebagai kerangka interpretatif non-reduksionis. Secara praktis, studi ini menekankan integrasi literasi kesehatan mental dalam pendidikan dan pendampingan keagamaan.