Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Eksistensi Diri Perspektif Ibn Thufail dan Martin Heidegger Melisa Mukaromah; Aan Supian; Rahmat Ramdhani; Ismail Ismail
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 8, No 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v8i2.5837

Abstract

Abstract: existence, in this case the author focuses the research on the perspective of Ibn Thufail and Martin Heidegger. The research objectives are: (1) Examining the concept of self-existence in the thinking of Ibn Thufail and Martin Heidegger. (2) Describe and examine the factors that influenced the emergence of Ibn Thufail and Martin Heidegger's concept of self-existence. (3) Examining, analyzing and interpreting the implementation of Ibn Thufail and Martin Heidegger's thoughts about self-existence towards the meaning and purpose of human life. This research uses library research methods using a philosophical approach. The results of this research include: (1) The concept of self-existence in Ibn Thufail's view is the ability to think about his existence, how he can be in this world and have divine consciousness and unity with nature as a form of self-existence. Martin Heidegger stated that Dasein is self-existence. The meaning of Ada can have meaning only for those who question their own existence. Dasein is therefore Being-in-the-World, the existence-to-death as being towards an end and anxiety as Dasein's typical way of expression. (2) The emergence of Ibn Thufail's concept of self-existence was due to the wave of Hellenism that entered the Islamic world, while Hidegger, namely Dehumination or Depersonalization. (3) Ibn Thufail's thoughts on self-existence encourage humans to seek knowledge, find a balance between reason and revelation, increase self-awareness and live in harmony with nature. The implementation of Heidegger's thought involves a deep awareness of our position in the world, understanding the value of time and death, building sincere relationships with other people and remaining open to life's experiences. Keywords: Self-existence, Ibn Thufail, Martin Heidegger. Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pertanyaan tentang bagaimana manusia dapat menunjukkan eksistensi dirinya, dalam hal ini penulis memfokuskan penelitian pada perspektif Ibn Thufail dan Martin Heidegger. Adapun tujuan penelitiannya adalah: (1) Mengkaji konsep eksistensi diri dalam pemikiran Ibn Thufail dan Martin Heidegger. (2) Mendeskripsikan dan mengkaji faktor yang mempengaruhi munculnya pemikiran konsep eksitensi diri Ibn Thufail dan Martin Heidegger. (3) Menelaah, menganalisa serta memaknai implementasi pemikiran Ibn Thufail dan Martin Heidegger tentang eksitensi diri terhadap makna dan tujuan hidup manusia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan pendekatan filosofis. Hasil penelitian ini meliputi: (1) Konsep eksistensi diri dalam pandangan Ibn Thufail adalah kemampuan dalam memikirkan keberadaanya, bagaimana ia bisa berada di dunia ini serta memiliki kesadaran ilahi serta kesatuan dengan alam sebagai wujud dari eksitensi diri. Martin Heidegger menyatakan bahwa Dasein sebagai eksistensi diri. Makna Ada bisa memiliki arti hanya bagi mereka yang mempertanyakan tentang keberadaannya sendiri. Karenanya Dasein merupakan Ada-di-dalam-Dunia, eksitensi keberadaan-untuk-kematian sebagai wujud menuju akhir dan kecemasan sebagai cara khas pengungkapan Dasein. (2) Munculnya konsep eksitensi diri Ibn Thufail dikarenkan gelombang Hellenisme yang masuk ke dunia Islam, Sedangkan Hidegger, Yaitu Dehuminasi atau Depersonalisasi. (3) Pemikiran Ibn Thufail tentang eksistensi diri mendorong manusia untuk mencari pengetahuan, menemukan keseimbangan antara akal dan wahyu, meningkatkan kesadaran diri dan hidup harmonis dengan alam. Adapun Implementasi pemikiran Heidegger melibatkan kesadaran mendalam tentang posisi kita di dunia, memahami nilai waktu dan kematian, membangun hubungan tulus dengan orang lain dan tetap terbuka terhadap pengalaman hidup. Kata kunci: Eksitensi diri, Ibn Thufail, Martin Heidegger.
Filsafat Etika Mulla Shadra antara Paradigma Mistik dan Teologi Ismail Ismail; Aziza Aryati
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 6, No 1 (2022): MEI
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v6i1.5044

Abstract

Abstract: Historically, ethics as a vehicle for philosophy was born as a result of the destruction of the moral order in the Greek cultural environment 2500 years ago. Older views of the nature of good and bad are no longer believed, therefore philosophers questioned the basic norms for human behavior at that time. The problem that often arises at that time, what are the norms to determine something that must be considered an obligation? For example, in the area of ethics the relationship between husband and wife, the relationship of children and parents, obligations to the State, ethics in association and the assessment of human lives. These views are very different from each other. To overcome the upheaval of differences of opinion, critical reflection on ethics is needed. The issue of ethics or morality is always interesting to study at any time or in any context. This paper discusses a Muslim philosopher who has a concern for human ethics or morality, namely Mulla Sadra. Moral philosophy offered by Mulla Sadra is often referred to as alHikmah al-Muta’aliyah. Epistemologically, al-Hikmah al-Muta’aliyah is based on three principles, namely first; intellectual intuition (dzawaq or israraaq), second; rational proof (‘aql or istidlal), and third; Shari'a. Thus, wisdom implies wisdom obtained through spiritual enlightenment or intellectual intuition and is presented in a rational form using rational arguments. This wisdom not only provides cognitive enlightenment, but also the realization that changes the recipient's form of enlightenment realizes knowledge so that the transformation of form occurs can only be achieved by following the Shari'a. Keywords: Historical, ethics, al-Hikmah al-Muta’aliyah, isyraaq, syariah. Abstrak: Secara historis, etika sebagai wahana filsafat lahir akibat dari rusaknya tatanan moral di lingkungan kebudayaan Yunani 2500 tahun yang lampau. Pandangan-pandangan lama mengenai hakekat baik dan buruk tidak lagi dipercaya, karenanya para filosof mempertanyakan kembali norma-norma dasar bagi keakuan manusia saat itu. Persoalan yang sering mengemuka saat itu, apa norma-norma untuk menentukan sesauatu yang harus dianggap sebagai kewajiban? Misalnya, dalam bidang etika hubungan antara suami dan istri, hubungan anak dan orang tua, kewajiban terhadap Negara, etika dalam pergaulan serta penilaian terhadap nyawa manusia. Pandangan-pandangan tersebut sangat berbeda satu sama lainnya. Untuk mengatasi pergolakan perbedaan pendapat tersebut, diperlukan refleksi kritis terhadap etika. Persoalan etika atau moralitas selalu menarik untuk dikaji kapanpun atau dalam kontek apapun. Tulisan ini membicarkan seorang filosof Muslim yang memiliki kepedulian terhadap etika atau moralitas manusia, yaitu Mulla Shadra. Filsafat moral yang ditawarkan oleh Mulla Shadra sering disebut dengan istilah al-Hikmah al-Muta’aliyah. Secara epistemologis al-Hikmah al-Muta’aliyah didasarkan pada tiga prinsip, yaitu pertama; intuisi intelektual (dzawaq atau isyraaq), kedua; pembuktian rasional (‘aql atau istidlal), dan ketiga; syariat. Dengan demikian, hikmah mengandung arti kebijaksanaan (wisdom) yang diperoleh melalui pencerahan rohaniyah atau intuisi intelektual dan disajikan dalam bentuk yang rasional dengan menggunakan argumen-argumen rasional. Hikmah ini bukan hanya memberikan pencerahan kognitif, tetapi juga realisasi yang mengubah wujud penerima pencerahan itu merealisasikan pengetahuan sehingga terjadi transformasi wujud hanya dapat dicapai dengan mengikuti syariat. Kata Kunci: Historis, etika, al-Hikmah al-Muta’aliyah, isyraaq, syariat.
Relasi Akal dan Wahyu Era Modern (Analisis Teologis Pemikiran Ibnu Taymiyyah) Sindi Lestari; Ismail Ismail
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 8, No 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v8i2.5835

Abstract

Abstract: The results of this study are; 1) Ibn Taymiyyah adheres to tauhid uluhiyah because rububiyyah has included it. Ibn Taimiyah divided the concept of Tauhid into three parts, Tauhid Asma' Wa-asshifat, Tauhid Uluhiyyah and Tauhid Rububiyah. Ibn Taimiyyah prioritized revelation over reason, revelation was considered higher than reason but did not leave reason behind, he equated reason and revelation by viewing the position of reason as "gharizah". Ibn Taimiyah's thoughts on the relationship between reason and revelation, namely by concluding that revelation is higher than philosophy and then also trying to reconcile reason and revelation by relating reason and revelation in interpretation in order to understand the sharia by returning to the concept of its suitability because it involves reason. according to him reason and revelation are in harmony. Real revelation and a straight intellectual perspective are always in line. Ibn Taymiyyah formulated the concept of conformity to overcome the conflict between reason and revelation. 2) Theological analysis of Mrs. Taymiyyah's thoughts on the relationship between reason and revelation that has an impact on the modern era with its advantages and disadvantages, namely there are 5 components, first, revelation is prioritized over reason, second, reason may be equal to revelation, third, the conflict between reason and revelation by prioritizing reason, fourth, Ibn Taymiyyah's method of interpretation and fifth, Ibn Taymiyyah's concept of fitrah. Ibn Taymiyyah's thoughts contributed to the progress of the modern era in several fields, first, Ibn Taymiyyah is used in a number of modern disciplines, second, Ibn Taymiyyah's modern Tafsir Al-Quran, third, Islamic Law is influenced by Ibn Taymiyyah, fourth, The impact of modern politics from Ibn Taymiyyah, fifth, Ibn Taymiyyah's Contribution to the modern economy, sixth, Ibn Taymiyyah's Influence on modern thought. Keywords: The Relationship between Reason and Revelation in the Modern Era. Abstrak: Hasil penelitian ini adalah; 1) Ibnu Taymiyyah menganut tauhid uluhiyah. Ibnu Taimiyah membagi pengertian Tauhid menjadi tiga bagian, Tauhid Asma' Wa-asshifat, Tauhid Uluhiyyah dan Tauhid Rububiyah. Ibnu Taimiyyah memprioritaskan wahyu dari pada akal, wahyu dianggap lebih tinggi dari akal namun tidak menerbelakangi akal, beliau menyama ratakan akal dan wahyu dengan memandang posisi akal sebagai “gharizah”. Pemikiran Ibnu Taimiyah pada relasi akal dan wahyu yaitu dengan model menyimpulkan bahwa wahyu lebih tinggi dari filsafat kemudian juga berupaya mendamaikan akal dan wahyu dengan merelasikan akal dan wahyu dalam takwil guna memahami syariat dengan kembali pada konsep kesuaiannya karena melibatkan akal menurutnya akal dan wahyu adalah selaras. Ibnu Taimiyah merumuskan konsep kesesuaian guna mengatasi konflik antara akal dan wahyu.2) Analisis teologis pemikiran Ibu Taymiyyah terhadap relasi akal dan wahyu yang berdampak pada era modern dengan kelebihan dan kekurangannya yaitu ada 5 komponen, pertama, wahyu lebih diprioritaskan dari pada akal, kedua, akal boleh setara dengan wahyu, ketiga, konflik relasi akal dan wahyu dengan mendahulukan akal, keempat, metode penafsiran Ibnu Taymiyyah dan yang kelima, konsep fitrah Ibnu Taymiyyah. Pemikiran Ibnu Taimiyah berkontribusi dalam kemajuan era modern dalam beberapa bidang, pertama, Ibnu Taimiyah digunakan dalam sejumlah disiplin ilmu modern, kedua, Tafsir Al-Quran modern Ibnu Taimiyyah, ketiga, Hukum Islam dipengaruhi oleh Ibnu Taimiyah, keempat, Dampak politik modern dari Ibnu Taimiyah, kelima, Kontribusi Ibnu Taimiyah terhadap perekonomian modern, keenam, Pengaruh Ibnu Taimiyyah terhadap pemikiran modern. Kata kunci : Relasi Akal dan Wahyu Era Modern.
Paradigma Pemahaman Hadist Tekstual dan Kontekstual; Analisis Muhammad Syuhudi Ismail Ismail Ismail; Sultan Gholand Astapala; Nafilah Chaudittisreen; Najma Namiril Kamila
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 8, No 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v8i2.6663

Abstract

Abstract: This research explains the paradigm of textual and contextual hadith. The figure studied is Syuhudi Ismail, who is a hadith figure in Indonesia whose book he wrote is Textual and Contextual Hadith of the Prophet. In understanding a hadith, Syuhudi Ismail does it methodically. First, analyze the text. Second, identifying the historical context for the emergence of hadith. Third, contextualization of hadith. The type of research used in this research is using library methods. The sources used in this writing are Textualist and Contextualist Hadith books as well as other books or articles as supporting material in this research. This research resulted in the conclusion that in understanding hadith, Syuhudi Ismail used a hermeneutic approach which was explained by text-context analysis. In analyzing the context of the hadith, he was also influenced by several hadith figures such as Imam Syihabuddin al-Qarafi and Syah Waliyullah al-Dahlawi. This influence is strengthened by the scientific research work of Syuhudi Ismail which analyzes the thoughts of these two figures.Keywords: Syuhudi Ismail, Hadith paradigm, textual and contextual. Abstrak: Penelitian ini menjelaskan tentang paradigma terhadap hadist tekstual dan kontekstual. Tokoh yang diteliti adalah Syuhudi Ismail, yang merupakan tokoh hadist di Indonesia dengan buku yang ditulis yaitu, Hadist Nabi yang Tekstual dan Kontekstual. Dalam memahami sebuah hadist, Syuhudi Ismail melakukannya dengan metode. Pertama, menganalisis teks. Kedua, Mengidentifikasikan konteks historis munculnya hadist. Ketiga, kontekstualisasi hadist. Jenis penelitian yang digunakan dalam riset ini yakni menggunakan metode kepistakaan. Adapun sumber yang digunakan dalam penulisan ini adalah buku Hadist yang Tekstualis dan Kontekstualis serta buku lain atau artikel lain sebagai bahan pendukung dalam penelitian ini. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa dalam memahami hadist, Syuhudi Ismail menggunakan pendekatan hermeneutik yang dijelaskan dengan adanya analisis teks-konteks. Dalam menganalisis konteks dari hadist, ia juga terpengaruh oleh beberapa tokoh hadist seperti Imam Syihabuddin al-Qarafi dan Syah Waliyullah al-Dahlawi. Pengaruh tersebut diperkuat dengan adanya penelitian karya ilmiah dari Syuhudi Ismail yang menganalisis pemikiran kedua tokoh tersebut.Kata kunci: Syuhudi Ismail, Paradigma hadist, tekstual dan kontekstual.