Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Epistimologi Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif John Locke dan Al-ghazali Fadhli Hafizh; Rohanda Rohanda; Abdul Kodir
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 8, No 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v8i2.6764

Abstract

Abstract: This article discusses the epistemology of knowledge from the perspectives of John Locke and Al-Ghazali. It also examines three Western epistemological schools: rationalism, empiricism, and criticism, as well as three Islamic intellectual traditions: bayani, burhani, and irfani. The study conducts a comparative analysis of the epistemologies of Al-Ghazali and John Locke, aiming to provide a comprehensive overview of their thoughts and examine the epistemological implications for the dynamics of knowledge and religion.John Locke developed the empiricist school, emphasizing the importance of experience in acquiring knowledge. He criticized the rationalist view that relies solely on reason while still acknowledging reason's role in understanding the world. In contrast, according to Al-Ghazali, true epistemological understanding comes from knowledge directly granted by God, inherent within an individual, signifying a person's spiritual closeness to God.Keywords: Al-Ghazali, Epistimology, John Lock. Abstrak: Artikel ini membahas epistemologi ilmu pengetahuan dalam perspektif John Locke dan Al-Ghazali. John Locke, Artikel ini juga mengkaji tiga aliran epistemologi Barat: rasionalisme, empirisme, dan kritisisme, serta tiga tradisi pemikiran Islam: bayani, burhani, dan irfani. Penelitian ini melakukan kajian komparatif terhadap epistemologi al-Ghazali dan John Locke dengan tujuan untuk memberikan gambaran yang komprehensif mengenai pemikiran keduanya, serta mengkaji konsekuensi epistemologis mereka terhadap dinamika ilmu pengetahuan dan agama.jonh Locke mengembangkan aliran empirisme yang menekankan pentingnya pengalaman dalam memperoleh pengetahuan. Ia mengkritik pandangan rasionalis yang terlalu mengandalkan akal semata, namun tetap mengakui peran akal dalam memahami dunia. Sedangkan Menurut Al-Ghazali, pemahaman epistimologi ilmu yang benar adalah hasil dari pengetahuan yang berasal langsung dari Allah dan telah melekat dalam diri seseorang. Hal ini menandakan kedekatan spiritual seseorang dengan Tuhan.Kata kunci: Epistimologi , John Locke , Al-Ghazali.
Epistemologi Ilmu dalam Perspektif Islam dan Barat : Sebuah Telaah Komparatif M Nurul Fajri; Rohanda Rohanda; Abdul Kodir
Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan Vol 5 No 1: Februari (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajpp.v5i1.2239

Abstract

Epistemologi merupakan cabang filsafat yang membahas hakikat pengetahuan, sumber-sumbernya, metode perolehannya, serta kriteria kebenaran dan validitasnya. Perbedaan epistemologis antara Islam dan Barat mencerminkan perbedaan paradigma filosofis yang mendasar dalam memandang realitas, manusia, dan tujuan ilmu pengetahuan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara komparatif epistemologi Islam dan epistemologi Barat dengan menitikberatkan pada landasan worldview, sumber pengetahuan, metode perolehan dan validasi pengetahuan, konsep kebenaran, serta orientasi nilai dan tujuan ilmu pengetahuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan melalui analisis terhadap berbagai literatur filsafat dan filsafat ilmu dari tradisi pemikiran Islam dan Barat. Hasil kajian menunjukkan bahwa epistemologi Islam bersifat integratif dan teosentris dengan wahyu sebagai sumber kebenaran tertinggi yang membimbing peran akal dan pengalaman empiris, serta menempatkan ilmu dalam kerangka etika dan tujuan transendental. Sebaliknya, epistemologi Barat cenderung antroposentris, menekankan rasionalitas dan empirisme, serta memisahkan ilmu dari dimensi metafisik dan nilai. Perbedaan paradigma ini berimplikasi signifikan terhadap arah pengembangan ilmu pengetahuan dan perannya dalam kehidupan manusia kontemporer.