Ika Novita Sari
Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Peran Psikoterapi Islam dalam Kesehatan Mental: Hafalan Al-Quran sebagai Media Menjaga Kesehatan Mental Penderita Diabetes Mellitus Ika Novita Sari; Siti Fatimatuz Zahro
Journal of Theory and Practice in Islamic Guidance and Counseling Vol. 1 No. 2 (2024): Journal of Theory and Practice in Islamic Guidance and Counseling
Publisher : Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/jtpigc.v1i2.6686

Abstract

Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit yang mempengaruhi kesehatan fisik dan mental penderitanya yang dapat memperburuk kualitas hidup mereka. Penelitian ini mengeksplorasi peran psikoterapi Islam dalam mendukung kesehatan mental penderita DM, dengan fokus pada hafalan Al-Quran sebagai metode spiritual untuk mengelola stres dan meningkatkan kesejahteraan emosional. Psikoterapi islam mengintegrasikan nilai-nilai spiritual yang menawarkan solusi holistik untuk membantu penderita DM meredakan kecemasan dan memperbaiki keseimbangan emosional. Hafalan Al-Quran selain sebagai ibadah, berfungsi sebagai terapi yang dapat menenangkan batin, mengurangi stres, dan meningkatkan kedamaian jiwa. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan yang menggabungkan pengobatan medis dengan psikoterapi Islam dapat memberikan manfaat besar bagi penderita DM, secara fisik maupun psikologis. Penelitian ini menggunakan metode library research atau penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualititif. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan berbagai macam kajian serta kepustakaan berupa jurnal – jurnal ilmiah. Penelitian ini akan menguraikan konteks integrasi pengobatan medis dan psikoterapi islam melalui hafalan Al – Quran dapat memperkuat kesehatan mental penderita DM, meningkatkan kualitas hidup serta memberikan kebermaknaan dalam menjalani kehidupan meski menghadapi keterbatasan kesehatan fisik. Kata kunci: Diabetes Melitus, Psikoterapi Islam, Hafalan Al-Qur'an, Kesehatan Mental, Terapi Spiritual
Pernikahan Dini Dalam Perspektif Hadis Nabi Dan Undang Undang No. 16 Tahun 2019 Siti Fatimatuz Zahro’; Fahmi Husaini; Fatimah Azzahra; Aziz Miftahus Surur; Ika Novita Sari
FIQHUL HADITS : Jurnal Kajian Hadits dan Hukum Islam Vol 2 No 1 (2024): FIQHUL HADITS: Jurnal Kajian Hadits dan Hukum Islam
Publisher : Ma'had Aly PP. Zainul Hasan Genggong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66090/fiqhulhadits.v2i1.16

Abstract

Pernikahan dini merupakan isu sosial dan keagamaan yang kontroversial di Indonesia, terutama dalam konteks harmonisasi antara ajaran agama dan peraturan perundang-undangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pernikahan dini dari dua perspektif utama: hadis Nabi dan Undang-Undang No. 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Metode yang digunakan adalah kajian literatur dengan pendekatan kualitatif, yang mencakup analisis teks hadis terkait pernikahan serta interpretasinya dalam konteks modern, dan evaluasi perubahan hukum yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara pandangan tradisional yang ditemukan dalam hadis dengan regulasi hukum negara yang lebih protektif terhadap hak anak dan perempuan. Meskipun hadis Nabi tidak secara eksplisit melarang pernikahan dini, terdapat interpretasi yang menekankan kemaslahatan dan kesejahteraan individu sebagai prinsip utama. Sementara itu, Undang-Undang No. 16 Tahun 2019 menetapkan batas usia minimal pernikahan menjadi 19 tahun, sebagai upaya untuk mengurangi risiko kesehatan, sosial, dan ekonomi bagi anak-anak yang menikah di usia dini.
Beyond the WEIRD Paradigm: Toward Inclusive Management Approaches to Burnout and Anxiety Abd. Basith Arham; Ika Novita Sari; Abd. Hamid Cholili
Mudir: Jurnal Manajemen Pendidikan Vol. 8 No. 1 (2026): Januari : Mudir : Jurnal Manajemen Pendidikan
Publisher : Islamic Education Management Study Program, Faculty of Tarbiyah, Sunan Drajat Islamic Boarding School Institute, Lamongan, East Java, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55352/mudir.v8i1.2961

Abstract

The phenomena of burnout and anxiety have become a serious concern in global mental health due to their impact on individual psychological well-being and productivity. Although research on work stress continues to grow, the literature remains largely dominated by Western perspectives, leaving sociocultural aspects in non-Western populations understudied. This systematic review aims to examine how sociocultural factors influence the prevalence, manifestations, and coping strategies for burnout and anxiety in adolescents and adults across various professions. This study followed PRISMA guidelines and searched the Scopus database through 2025. A total of 103 primary studies were selected after a screening process and methodological quality evaluation using the Joanna Briggs Institute (JBI) instrument. The analysis was conducted using narrative thematic analysis and supported by bibliometric mapping using VOS viewer software. The results indicate that cultural context plays a role in shaping experiences of burnout and anxiety. Several studies in collectivistic societies reported more frequent somatization symptoms, while studies in more individualistic societies tended to show a predominance of emotional exhaustion. Furthermore, this study found a predominance of WEIRD (Western, Educated, Industrialized, Rich, and Democratic) samples in the mental health literature, indicating a limited representation of non-Western cultures. Factors such as social stigma, hierarchical structures, and demands for self-sacrifice were associated with an increased risk of burnout, particularly in caregiving professions. Conversely, communal support and spirituality were reported as adaptive coping strategies in various Eastern cultural contexts. These findings underscore the importance of developing more culturally sensitive mental health interventions and organizational policies. However, the results of this study should be interpreted with caution, as the heterogeneity of cultural characteristics and study designs analyzed may limit the generalizability of the findings. Therefore, further research with a more diverse cross-cultural approach is needed to strengthen our understanding of burnout and anxiety in a global context.