Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pemberdayaan masyarakat untuk mengurangi nyeri lutut pada pasien osteoarthritis dengan terapi latihan Mar'atun Ulaa; Riska Marlin; Romiko Romiko; Yuniza Yuniza; Aisyah Rizky Amanah; Athiya Nur Shadrina; Desi Ulandari; Ega Dwi Wandari; Enik Dwi Septiani; Florendia Florendia; Hafita Nilanda; Muhammad Aryo Ramadhani; Septiani Susanti; Winda Sapitri
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 5 (2025): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i5.33556

Abstract

AbstrakNyeri lutut atau osteoarthritis knee merupakan suatu kondisi degeneratif kronis akibat adanya peradangan pada jaringan disekitar lutut. Usia adalah predictor terkuat Osteoarthritis (OA) lutut. Gejala klinis OA yaitu kekakuan sendi, nyeri sendi dan disfungsi sendi, namun masalah utama bagi sebagian besar pasien adalah rasa sakit atau nyeri pada sendi. Kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan dengan tujuan memberdayakan masyarakat untuk mengurangi nyeri lutut pada pasien osteoarthritis dengan terapi latihan  pada lansia yang berjumlah 98 orang dengan kondisi nyeri pada sendi lutut di Desa Palemraya Kecamatan Indralaya Utara Kabupaten Ogan Ilir. Penyuluhan ini menggunakan metode ceramah, diskusi dan demonstrasi dengan media leaflet di lengkapi dengan keterangan gambar latihan untuk mengurangi keluhan nyeri lutut yang dilaksanakan pada tanggal 08 Februari 2025. Berdasarkan hasil kegiatan, nyeri lutut pada lansia berkurang dengan rata-rata nyeri sebelum terapi Latihan sebesar 6,09 dan rata-rata nyeri setelah terapi latihan sebesar 3,55, dengan perbedaan rerata nyeri sebelum dan setelah terapi Latihan sebesar  2.54 menggunakan Numerical Rating Scale. Terapi Latihan pada lansia dapat menurunkan nyeri lutut. Kata Kunci: nyeri lutut; osteoartritis; terapi latihan. AbstractKnee pain or knee osteoarthritis is a chronic degenerative condition due to inflammation of the tissues around the knee. Age is the strongest predictor of knee Osteoarthritis (OA). Clinical symptoms of OA are joint stiffness, joint pain and joint dysfunction, but the main problem for most patients is pain or tenderness in the joints. Community service activities are carried out with the aim of empowering the community to reduce knee pain in osteoarthritis patients with exercise therapy in 98 elderly people with knee joint pain conditions in Palemraya Village, North Indralaya District, Ogan Ilir Regency. This counseling uses lectures, discussions and demonstrations with leaflets equipped with image descriptions of exercises to reduce complaints of knee pain which was carried out on February 8, 2025. Based on the results of activities, knee pain in the elderly was reduced with an average pain before exercise therapy of 6.09 and an average pain after exercise therapy of 3.55, with a difference in the average pain before and after exercise therapy of 2.54 using the Numerical Rating Scale.  Exercise therapy in the elderly can reduce knee pain. Keywords: knee pain; osteoarthritis; exercise therapy.
PENERAPAN TERAPI RELAKSASI NAPAS DALAM UNTUK MENGURANGI KECEMASAN PADA ANAK DENGAN BRONKOPNEUMONIA Adriyan Fahlepi; Mar'atun Ulaa
Jurnal 'Aisyiyah Medika Vol 11, No 1 (2026): Februari 2026 Jurnal 'Aisyiyah Medika
Publisher : stikes 'aisyiyah palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36729/jam.v11i1.1565

Abstract

Latar Belakang: Gangguan pernapasan merupakan kondisi yang mengganggu proses pertukaran oksigen akibat obstruksi atau infeksi pada saluran pernapasan. Kondisi ini sering disertai kecemasan yang dapat memperburuk respons fisiologis dan psikologis anak, sehingga berdampak pada proses penyembuhan dan kualitas hidup. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pelaksanaan asuhan keperawatan melalui pemberian terapi relaksasi napas dalam menurunkan tingkat kecemasan pada anak dengan bronkopneumonia. Metode: Penelitian menggunakan desain studi kasus pada dua pasien anak dengan bronkopneumonia yang mengalami kecemasan. Intervensi berupa terapi relaksasi napas dalam diberikan secara terstruktur sesuai standar asuhan keperawatan. Tingkat kecemasan diukur sebelum dan sesudah intervensi menggunakan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Hasil: Sebelum intervensi, skor HARS An. G sebesar 27 dan An. R sebesar 20, yang keduanya termasuk kategori kecemasan sedang. Setelah tiga hari pemberian terapi relaksasi napas dalam, skor kecemasan menurun menjadi 10 pada An. G dan 9 pada An. R, yang menunjukkan kategori kecemasan ringan. Saran: Terapi relaksasi napas dalam direkomendasikan sebagai intervensi non-farmakologis yang diterapkan secara terstruktur dan terjadwal oleh perawat, disertai edukasi kepada pasien dan keluarga, sebagai bagian dari atraumatic care pada anak dengan bronkopneumonia yang mengalami kecemasan. Kata kunci: Bronkopneumonia, Kecemasan, Relaksasi Napas Dalam