Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peningkatan keterampilan pemasaran melalui sosialisasi pengelolaan media sosial bagi pemilik batik di Desa Jarum, Bayat, Klaten Hadi Sasana; Yuliani Setyaningsih; Shofwan Bahar; Shafhah Meiska Putri; Aulia Rahmadinisyah
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 5 (2025): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i5.34017

Abstract

Abstrak Sebagian besar pengrajin batik di Desa Jarum, Bayat, Klaten masih mengandalkan pemasaran konvensional, seperti penjualan langsung dan promosi dari mulut ke mulut. Kondisi ini membatasi jangkauan pasar, sementara pemanfaatan platform digital seperti Instagram dan Shopee belum optimal karena keterbatasan waktu, literasi digital, serta faktor usia pengrajin.Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan pemasaran digital pengrajin batik di Desa Jarum, Bayat, Klaten, yang masih dominan menggunakan metode konvensional. Tahapan pelaksanaan meliputi: (1) observasi dan wawancara awal dengan sepuluh pemilik batik untuk mengidentifikasi pola pemasaran dan kendala yang dihadapi, (2) sosialisasi bertema Pemasaran Berbasis IT yang membahas pemanfaatan media sosial, pembuatan konten promosi, serta pengenalan e-commerce, dan (3) evaluasi pasca kegiatan melalui wawancara lanjutan serta pembuatan konten digital. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta mengenai strategi pemasaran digital. Beberapa pengrajin mulai aktif menggunakan Instagram dan WhatsApp Business, serta menunjukkan minat untuk mengembangkan toko daring di Shopee. Selain itu, tim KKN membuat sembilan konten promosi batik yang dipublikasikan melalui akun TikTok @batikdi.jarum. Konten ini berhasil memperoleh 9.508 tayangan, 484 likes, 115 komentar, 19 saves, dan 306 shares, menandakan tingginya respons audiens terhadap produk batik lokal. Secara keseluruhan, program ini memberikan wawasan praktis, meningkatkan keterampilan digital, serta mendorong pengrajin batik untuk lebih percaya diri dalam memanfaatkan teknologi pemasaran. Digitalisasi pemasaran melalui media sosial terbukti efektif memperluas jangkauan pasar dan memperkuat daya saing UMKM batik Desa Jarum di era digital. Kata kunci: batik; digital marketing; TikTok; UMKM; Desa Jarum. Abstract Most batik artisans in Jarum Village, Bayat, Klaten still rely on conventional marketing methods, such as direct sales and word-of-mouth promotion. This condition limits market reach, while the use of digital platforms such as Instagram and Shopee remains suboptimal due to limited time, digital literacy, and the age factor of the artisans. This community service program aims to enhance the digital marketing skills of batik artisans in Jarum Village who predominantly use conventional methods. The implementation stages consisted of: (1) initial observation and interviews with ten batik owners to identify marketing patterns and existing challenges, (2) a socialization program on IT-Based Marketing that introduced the use of social media, promotional content creation, and e-commerce platforms, and (3) post-activity evaluation through follow-up interviews and the creation of digital content. The results showed an increase in participants’ understanding of digital marketing strategies. Several artisans began actively using Instagram and WhatsApp Business, and expressed interest in developing online shops on Shopee. In addition, the KKN team produced nine promotional batik contents published through the TikTok account @batikdi.jarum. These contents gained 9,508 views, 484 likes, 115 comments, 19 saves, and 306 shares, indicating a positive audience response to local batik products.Overall, this program provided practical insights, improved digital skills, and encouraged artisans to be more confident in utilizing digital marketing. Social media-based digitalization proved effective in expanding market reach and strengthening the competitiveness of Jarum Village’s batik MSMEs in the digital era. Keywords: batik; digital marketing; TikTok; MSMEs; Jarum Village.
Ergonomic Education and William Flexion Exercise Training for Low Back Pain Prevention Among Batik Artisans in Jarum Village, Klaten Yuliani Setyaningsih; Hadi Sasana; Shofwan Bahar; Yesaya Rudolf Susanto Widyanto; Maxilla Narda Bentari; Nur Indah Komala; Stephen Arya Dwipa
Warta LPM WARTA LPM, Vol. 28, No. 3, November 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/warta.v28i3.12456

Abstract

Low Back Pain (LBP) is a prevalent occupational health complaint among batik artisans, resulting from static and non-ergonomic work postures. However, awareness regarding prevention and early management remains low, as these complaints are often normalized. This study aimed to evaluate the effectiveness of a targeted educational and practical training program on William Flexion Exercise in increasing knowledge about LBP prevention among batik artisans. The program applied a pre-experimental one-group pre-test post-test design involving 21 batik artisans. The intervention consisted of a socialization session on LBP and ergonomics, followed by a practical demonstration and training of the William Flexion Exercise. An increase in knowledge was measured using a questionnaire administered before and after the event. Data were analyzed using the non-parametric Wilcoxon Signed-Rank Test. The findings revealed an increase in the participants' mean knowledge score from 80.95 in the pre-test to 86.67 in the post-test. This increase was found to be statistically significant (W = 0.0; p = 0.031), with a large effect size (r = 0.88). The socialization and training program on the William Flexion Exercise was proven to be significantly effective in improving the knowledge of batik artisans regarding LBP prevention. The findings suggest that a community-based educational program incorporating practical exercise demonstration is a feasible and promising approach for increasing health knowledge. This model warrants further investigation in a larger controlled study.