Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Strategi Pemberdayaan Perempuan dalam Masyarakat Islam: Studi Wacana Kritis Pemikiran Fatima Mernissi dalam Buku Beyond The Veil Rofifah Rofifah; Asep Shodiqin; Enok Risdayah
Bayt Al Hikmah: Jurnal Pendidikan dan Pengembangan Masyarakat Islam Vol. 1 No. 1 (2025): Januari - Juni 2025
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54065/BaytAl-Hikmah.371

Abstract

Urgensi penelitian adalah untuk memahami strategi pemberdayaan perempuan dalam masyarakat Islam melalui pendekatan wacana kritis, khususnya dengan mengkaji pemikiran Fatima Mernissi dalam bukunya Beyond The Veil. Fatima Mernissi, seorang pemikir dan akademisi terkemuka dalam studi gender dan Islam, menawarkan perspektif yang kritis dan inovatif terhadap posisi perempuan dalam masyarakat Islam tradisional. Penelitian ini mengadopsi metode analisis wacana kritis untuk menilai bagaimana Mernissi menyusun argumen dan strategi pemberdayaannya, serta dampak dari pemikirannya terhadap perubahan sosial dalam konteks Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menganalisis teks Beyond The Veil secara mendalam. Fokus utama adalah pada pemahaman Mernissi tentang batasan-batasan sosial yang dihadapi perempuan Muslim dan strategi yang dia usulkan untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa Mernissi menekankan pentingnya reinterpretasi teks-teks agama, pendidikan, dan keterlibatan aktif perempuan dalam kehidupan publik sebagai kunci untuk pemberdayaan. Dia mengkritik struktur patriarki yang menghambat partisipasi perempuan dan mendorong pembentukan ruang baru bagi perempuan untuk mengaktualisasikan potensi mereka. Studi ini menemukan bahwa pemikiran Mernissi tidak hanya memberikan kritik tajam terhadap ketidakadilan gender dalam masyarakat Islam, tetapi juga menawarkan solusi konkret yang berakar pada nilai-nilai Islam sendiri. Rekomendasi yang dia berikan untuk reformasi sosial dan pendidikan dapat menjadi panduan penting bagi upaya pemberdayaan perempuan dalam konteks kontemporer. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pemahaman yang lebih baik tentang strategi pemberdayaan perempuan dalam masyarakat Islam dan membuka jalan bagi studi lebih lanjut mengenai peran perempuan dalam perubahan sosial.
Spiritual Communication And Religious Experience Of Cultivation Adherents In The Cibedug Indigenous Community Jujun Junaedi; Enok Risdayah; Khoiruddin Muchtar; Asep Iwan Setiawan; Rohmanur Aziz
Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 15, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Master of Communication Science Program, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/interaksi.15.1.93-120

Abstract

This study examines the lived spiritual communication experiences of nine adherents of the Budi Daya belief system in Cibedug Hamlet, Lembang, West Bandung, Indonesia. Employing Moustakas’s (1994) Transcendental Phenomenology — selected for its capacity to systematically uncover essential experiential structures through epoche, phenomenological reduction, and imaginative variation — the study investigates what spiritual communication experiences Budi Daya adherents undergo and how these shape their vertical (human-divine) and horizontal (human-human/nature) communicative relationships. Data were collected from nine purposively selected informants through in-depth interviews, participant observation during community rituals, and documentary review. Three invariant themes emerge from the cross-case analysis: (1) cognitive-reflective experience manifested as inner spiritual struggle and intrapersonal dialogue (textural description: Indra, Ecep, Euis Shelian); (2) ritual-behavioral experience expressed through the symbolic and collective dimensions of the Mipit Amit ceremony; and (3) social-communal experience realized through solidarity, togetherness, and interreligious harmony. The study’s novelty lies in its proposal of a dual-channel spiritual communication framework — bridging transcendental and cultural communication theory — grounded in the indigenous lived experience of a non-mainstream local belief community in Indonesia, advancing existing spiritual communication scholarship by demonstrating that transcendental and cultural communication are mutually constitutive in indigenous religious practice.