Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Jejak Benteng Peninggalan Inggris Di Bengkulu (Tinjauan Historis- Filosofis) Armin Tedy; Arum Puspitasari; Elvira Purnamasari
AL Maktabah Vol 10, No 1 (2025): JUNI
Publisher : Pusat Publikasi Ilmiah UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mkt.v10i1.3718

Abstract

Penelitian ini membahas keberadaan tiga benteng tinggalan kolonial Inggris di Bengkulu, yaitu Benteng Marlborough, Benteng Anna, dan Benteng Linau, dalam perspektif historis dan filosofis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode sejarah yang melibatkan tahapan heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Fokus utama adalah menganalisis pelestarian fisik dan pemaknaan filosofis dari ketiga benteng tersebut di tengah masyarakat lokal. Hasil kajian menunjukkan bahwa Benteng Marlborough masih berdiri kokoh dan dimaknai sebagai simbol perlawanan terhadap kolonialisme serta dijadikan ikon wisata Kota Bengkulu. Benteng Anna mengalami kerusakan berat akibat penjarahan dan dianggap sebagai bentuk penolakan masyarakat terhadap kembalinya kekuasaan kolonial. Sementara itu, Benteng Linau sudah tidak tersisa secara fisik dan keberadaannya mulai diliputi mitos masyarakat sebagai bentuk perlindungan dari eksploitasi liar. Ketimpangan dalam pelestarian fisik berdampak langsung pada hilangnya nilai filosofis yang melekat. Penelitian ini menegaskan pentingnya revitalisasi nilai-nilai historis-filosofis sebagai bagian dari upaya pelestarian cagar budaya tinggalan kolonial yang masih tersisa di Indonesia, khususnya Bengkulu.
IBN MISKAWAIH'S ETHICAL ANALYSIS OF HIFZ NASL IN OVERCOMING DEEPFAKE PORNOGRAPHY IN THE AI ERA Nadia Utami; Elvira Purnamasari
Multidisciplinary Indonesian Center Journal (MICJO) Vol. 3 No. 3 (2026): Vol. 03 No. 3 Edisi Juli 2026
Publisher : PT. Jurnal Center Indonesia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/micjo.v3i3.2579

Abstract

In the era of artificial intelligence (AI), the rise of pornographic deepfakes poses a serious threat to human dignity, privacy, and social stability. This phenomenon exploits deep learning technology to manipulate individuals’ faces into non-consensual pornographic content, often targeting women and public figures. This paper examines the ethics of Ibn Miskawayh, a 10th-century Muslim philosopher, specifically the concept of hifz al-nasl (preservation of lineage) as one of the five maqasid al-shari’a (Islamic principles), to address this issue. Hifz al-nasl emphasizes the protection of human lineage, including family honor, women’s dignity, and social integrity, which are relevant to the psychological damage, trauma, and moral degradation caused by deepfakes. Through an analysis of the texts Tahdhib al-Akhlaq and Al-Fauz al-Asghar, this concept is outlined as a preventive and curative principle: prevention through strengthening individual morals and regulating technology, and treatment through restorative justice. Ibn Miskawayh combines Aristotelian philosophy with Islam, making hifz al-nasl a collective obligation to maintain the balance of the soul (nafs) and society. Its applications to deepfakes include: (1) ethical use of AI based on piety and ‘adl; (2) legal regulations that protect privacy as an extension of preserving lineage; and (3) moral education to build digital resilience. This study concludes that Ibn Miskawaih’s approach offers a holistic framework, integrating spiritual, ethical, and legal dimensions, that is more adaptive than technological solutions alone. Recommendations include the development of contemporary fatwas and ethical AI platforms for the digital age.