Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Revitalisasi Pembelajaran Bahasa Indonesia melalui Gamifikasi: Studi Kasus Kelas IX Sekolah Menengah Pertama Maniah Maniah; Mochamad Arifin Alatas
Social, Humanities, and Educational Studies (SHES): Conference Series Vol 8, No 3 (2025): Social, Humanities, and Educational Studies (SHEs): Conference Series
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/shes.v8i3.107359

Abstract

In the face of the digital era and shifting learning styles among younger generations, educators are expected to implement more engaging and relevant teaching strategies. Gamification, as an innovative learning approach, integrates game elements such as challenges, points, and rewards into learning activities in hopes of overcoming students’ boredom with conventional methods. This study aims to explore the implementation of gamification in Indonesian language learning and its impact on the motivation and academic outcomes of ninth-grade students at SMP Islam Terpadu Al Imron Sumenep. Employing a descriptive qualitative method with a case study approach, data were collected through observations, interviews, and motivation questionnaires as supporting instruments. Data analysis involved data reduction, data display, and conclusion drawing to gain a comprehensive understanding of gamification practices in education. The findings reveal that gamification successfully creates a more enjoyable and participatory learning environment, increases student engagement, and fosters high learning motivation. The average student motivation score of 4.1 on a 5-point scale supports qualitative findings that indicate greater enthusiasm and activeness during lessons. Although generally effective, initial challenges were observed, particularly in students’ understanding of game rules and the need for teachers to adapt the material. Overall, gamification is considered an effective and promising teaching strategy that is creative and adaptable, not only for the Indonesian language subject but also for other disciplines.Dalam menghadapi era digital dan perubahan gaya belajar generasi muda, pendidik dituntut untuk menerapkan strategi pembelajaran yang lebih menarik dan relevan. Gamifikasi sebagai pendekatan pembelajaran inovatif memadukan elemen permainan seperti tantangan, poin, dan penghargaan ke dalam aktivitas belajar, dengan harapan dapat mengatasi kejenuhan siswa terhadap metode konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan metode gamifikasi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia serta dampaknya terhadap motivasi dan hasil belajar siswa kelas IX di SMP Islam Terpadu Al Imron Sumenep. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, serta angket motivasi sebagai data  pelengkap. Teknik analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan untuk memperoleh pemahaman yang mendalam terhadap penerapan gamifikasi dalam pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gamifikasi mampu menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan dan partisipatif, meningkatkan keterlibatan aktif siswa, serta memunculkan motivasi belajar yang tinggi. Rata-rata skor motivasi siswa sebesar 4,1 dari skala 5 memperkuat temuan kualitatif yang menunjukkan peningkatan antusiasme dan keaktifan siswa dalam pembelajaran. Meski secara umum berjalan efektif, tantangan tetap muncul pada tahap awal implementasi, terutama dalam hal pemahaman siswa terhadap aturan permainan dan penyesuaian materi oleh guru. Secara keseluruhan gamifikasi dinilai efektif dan layak dikembangkan lebih lanjut sebagai strategi pembelajaran yang kreatif dan adaptif, tidak hanya untuk Bahasa Indonesia tetapi juga untuk mata pelajaran lainnya.
Pengaruh Examples Non Examples terhadap Kemampaun Menulis Teks Eksplanasi Siswa di Kelas XI MDRASAH ALIYAH Muhammad Ilzam; Mochamad Arifin Alatas; Hesty Kusamba Wati
Social, Humanities, and Educational Studies (SHES): Conference Series Vol 8, No 3 (2025): Social, Humanities, and Educational Studies (SHEs): Conference Series
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/shes.v8i3.107379

Abstract

Writing skills, particularly in the form of explanatory texts, are a crucial aspect in developing students' critical thinking skills at the Islamic senior high school (madrasah aliyah) level. However, many students experience difficulty organizing text structure, using scientific vocabulary, and explaining cause-and-effect relationships logically. This study aims to analyze the effect of the Examples Non-Examples (ENE) learning model on the explanatory text writing skills of 11th-grade students at MA Nurus Sholah, Akkor Village, Palengaan, Pamekasan. The research method used was quantitative with a correlational approach, involving 60 students as a sample determined through purposive sampling. The research instruments, a Likert-scale questionnaire and a written test, were analyzed using the Pearson Product Moment correlation test. The results showed that the implementation of the ENE model significantly improved text structure, idea development, and the coherence and logical relationships between paragraphs in students' explanatory texts. The visualization of images in this model was proven to help students understand text structure and organize ideas systematically. Furthermore, this model increased students' active participation and enthusiasm in the writing learning process. The findings also indicated that image-based group discussions were able to build student confidence and collaboration.Keterampilan menulis, khususnya dalam bentuk teks eksplanasi, merupakan aspek penting dalam pengembangan kemampuan berpikir kritis siswa di tingkat madrasah aliyah. Namun, banyak siswa mengalami kesulitan dalam mengorganisasi struktur teks, menggunakan kosakata ilmiah, dan menjabarkan hubungan sebab-akibat secara logis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh model pembelajaran Examples Non Examples (ENE) terhadap kemampuan menulis teks eksplanasi siswa kelas XI MA Nurus Sholah, Desa Akkor, Palengaan, Pamekasan. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan korelasional, melibatkan 60 siswa sebagai sampel yang ditentukan melalui teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa angket skala Likert dan tes tertulis, dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model ENE berpengaruh signifikan terhadap peningkatan struktur teks, pengembangan gagasan, serta koherensi dan logika hubungan antar paragraf dalam teks eksplanasi siswa. Visualisasi gambar dalam model ini terbukti membantu siswa dalam memahami struktur teks dan menyusun ide secara sistematis. Selain itu, model ini meningkatkan partisipasi aktif dan antusiasme siswa dalam proses pembelajaran menulis. Temuan juga menunjukkan bahwa diskusi kelompok berbasis gambar mampu membangun kepercayaan diri dan kolaborasi siswa.
Evaluasi Pembelajaran Digital Bahasa Indonesia melalui Integrasi Google Form dan Buku Teks pada Siswa Kelas IX SMP/MTs Sahril Hamdani; Liana Rochmatul Wachidah; Albaburrahim Albaburrahim; Mochamad Arifin Alatas
Social, Humanities, and Educational Studies (SHES): Conference Series Vol 8, No 3 (2025): Social, Humanities, and Educational Studies (SHEs): Conference Series
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/shes.v8i3.107434

Abstract

This research is motivated by the development of technology that encourages teachers to combine textbooks with digital instruments such as Google Form to support the effectiveness of the learning evaluation process. This study aims to describe the use of Google Form and textbooks as evaluation tools for Indonesian language learning for grade IX students of junior high schools/Islamic junior high schools. The method used is a literature study with a qualitative approach, the data of which is obtained from reference books and scientific journal articles. Data analysis was carried out through the stages of data collection, data reduction, data presentation, and inference drawing. The results of the study show that the use of Google Form provides convenience in managing and accessing evaluation results quickly, while textbooks still provide varying depth of material and validity of questions. The collaboration between these two instruments has been shown to increase the efficiency and quality of Indonesian language learning evaluation. The conclusion of this study is that the integration of Google Form and textbooks is an effective and relevant digital evaluation innovation to support continuous learning in the technological era.Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya perkembangan teknologi yang mendorong guru untuk mengombinasikan buku teks dengan instrumen digital seperti Google Form guna mendukung efektivitas proses evaluasi pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan Google Form dan buku teks sebagai alat evaluasi pembelajaran Bahasa Indonesia pada siswa kelas IX SMP/MTs. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan kualitatif, yang datanya diperoleh dari buku-buku referensi dan artikel jurnal ilmiah. Analisis data dilakukan melalui tahap pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan inferensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Google Form memberikan kemudahan dalam mengelola dan mengakses hasil evaluasi secara cepat, sementara buku teks tetap memberikan kedalaman materi dan validitas soal yang bervariasi. Kolaborasi antara kedua instrumen ini terbukti meningkatkan efisiensi dan kualitas evaluasi pembelajaran Bahasa Indonesia. Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa integrasi Google Form dan buku teks merupakan inovasi evaluasi digital yang efektif dan relevan untuk mendukung pembelajaran berkelanjutan di era teknologi. 
Inovasi Pembelajaran Menulis Cerpen melalui Context Teaching Problem Learning (CTPL) pada Siswa Kelas XII Madrasah Aliyah Kamilatul Jannah; Mochamad Arifin Alatas
Social, Humanities, and Educational Studies (SHES): Conference Series Vol 8, No 3 (2025): Social, Humanities, and Educational Studies (SHEs): Conference Series
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/shes.v8i3.107301

Abstract

Writing short stories in secondary education is often procedural and lacks connection to students’ real-life contexts. This study aims to explore the application of Context Teaching Problem Learning (CTPL) in teaching short story writing to 12th-grade students at MA Al-Azhar. CTPL integrates Contextual Teaching and Learning (CTL) and Problem-Based Learning (PBL), emphasizing real-life experiences and social issues as the foundation for writing. A qualitative approach with a case study design was employed, using observation, in-depth interviews, and documentation for data collection. The data were analyzed using interactive analysis techniques, including data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that CTPL encourages students to write short stories rooted in personal experiences and social concerns, enhancing creativity, empathy, and social awareness. Teachers act as facilitators to guide reflective and meaningful learning. The students’ stories not only meet literary criteria but also convey life values. CTPL successfully fosters an inclusive and humanistic learning environment, supporting the development of students' expressive, narrative, and character-building skills.Penulisan cerpen di jenjang pendidikan menengah sering kali bersifat prosedural dan kurang menyentuh konteks kehidupan siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pembelajaran menulis cerpen dengan pendekatan Context Teaching Problem Learning (CTPL) pada siswa kelas XII MA Al-Azhar. CTPL merupakan integrasi antara Contextual Teaching and Learning (CTL) dan Problem-Based Learning (PBL), yang menempatkan pengalaman nyata dan permasalahan sosial sebagai landasan dalam proses menulis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis interaktif yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan CTPL mendorong siswa untuk menulis cerpen berdasarkan pengalaman personal dan isu sosial di sekitar mereka, sehingga meningkatkan kreativitas, empati, serta kesadaran sosial. Guru berperan sebagai fasilitator dalam menciptakan pembelajaran yang reflektif dan bermakna. Cerpen yang dihasilkan siswa tidak hanya memenuhi unsur sastra, tetapi juga sarat nilai-nilai kehidupan. CTPL terbukti mampu membangun suasana belajar yang inklusif dan humanis, serta memfasilitasi pertumbuhan kemampuan ekspresif, naratif, dan karakter siswa secara menyeluruh.
Inovasi Penerjemahan Digital Berbasis Kecerdasan Buatan: Studi Komparatif antara ChatGPT, Google Translate, dan Penerjemah Manusia dalam Teks Sastra dan Ilmiah Irma Rachmayanti; Mochamad Arifin Alatas; A. Samsul Ma'arif; Albaburrahim Albaburrahim; Sahrul Romadhon
Social, Humanities, and Educational Studies (SHES): Conference Series Vol 8, No 3 (2025): Social, Humanities, and Educational Studies (SHEs): Conference Series
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/shes.v8i3.107285

Abstract

This study is motivated by the fact that the development of artificial intelligence (AI) technology has revolutionized various fields, including the practice and teaching of translation. It examines digital translation innovations powered by AI through a comparative study of ChatGPT, Google Translate, and human translators in the context of literary and scientific texts. The research combines four previous research approaches using a mixed-methods design, involving analysis of translation students’ perceptions, quality assessment of Arabic literary text translations, linguistic evaluation of scientific texts, and expert assessments of classical Arabic poetry. The findings indicate that ChatGPT is preferred over Google Translate in literary translation, particularly for its fluency and contextual relevance, although it still lags behind human translators in terms of cultural accuracy. In scientific text translation, ChatGPT excels in terminological accuracy but lacks flexibility in syntactic structure. Meanwhile, in classical poetry translation, ChatGPT is considered capable of competing with human translators in terms of thematic clarity, creativity, and prosody, significantly outperforming Google Gemini. This study highlights the importance of collaborative utilization between AI and human translators to achieve accurate, contextual, and functional translations in education and language services in the digital age.Penelitian ini dilatarbelakangi adanya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) telah merevolusi berbagai bidang, termasuk praktik dan pembelajaran penerjemahan. Penelitian ini mengkaji inovasi penerjemahan digital berbasis kecerdasan buatan (AI) melalui studi komparatif antara ChatGPT, Google Translate, dan penerjemah manusia dalam konteks teks sastra dan ilmiah. Kajian ini memadukan empat pendekatan penelitian terdahulu dengan metode campuran (mixed methods), melibatkan analisis terhadap persepsi mahasiswa penerjemah, penilaian kualitas terjemahan teks sastra Arab, evaluasi linguistik terhadap teks ilmiah, serta penilaian ahli terhadap puisi Arab klasik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ChatGPT lebih disukai dibanding Google Translate dalam penerjemahan sastra, terutama karena kelancaran dan kontekstualitasnya, meskipun masih kalah dalam aspek akurasi budaya dibanding penerjemah manusia. Dalam penerjemahan teks ilmiah, ChatGPT unggul dalam keakuratan istilah tetapi kurang fleksibel dalam struktur sintaksis. Sementara itu, pada puisi klasik, ChatGPT dinilai mampu bersaing dengan penerjemah manusia dalam aspek kejelasan tema, kreativitas, dan prosodi, jauh melampaui performa Google Gemini. Penelitian ini menegaskan pentingnya pemanfaatan kolaboratif antara AI dan penerjemah manusia untuk mencapai hasil terjemahan yang akurat, kontekstual, dan berdaya guna dalam pembelajaran serta layanan kebahasaan era digital.
Pembelajaran Inklusif Berbasis Kecerdasan Majemuk dalam Novel Totto-Chan: Relevansi untuk Pendidikan Berkelanjutan Mochamad Arifin Alatas; Suyatno Suyatno; Syamsul Sodiq
Social, Humanities, and Educational Studies (SHES): Conference Series Vol 8, No 3 (2025): Social, Humanities, and Educational Studies (SHEs): Conference Series
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/shes.v8i3.107369

Abstract

An ideal education should respect the uniqueness of every child, each of whom possesses different intelligences and potentials. However, in practice, education often remains uniform and discriminatory. This article aims to describe the practice of inclusive learning based on multiple intelligences as represented in the novel Totto-Chan: The Little Girl at the Window by Tetsuko Kuroyanagi, and its relevance to sustainable education in Indonesia. This study employs a descriptive qualitative approach using content analysis of both the Indonesian and English versions of the novel, supported by the theories of progressivism-humanism (Dewey, Rogers) and critical pedagogy (Freire). Data collection techniques include intensive reading, note-taking, and thematic coding, followed by hermeneutic analysis to interpret the educational meanings within the narrative. The data were analyzed by identifying key themes representing values of inclusion and multiple intelligences, then interpreted contextually based on the applied theoretical framework. The findings reveal that Tomoe Gakuen School in the novel demonstrates an inclusive, flexible, and contextual educational practice that embraces “different” children like Totto-Chan and supports the development of character and multiple intelligences through experiential learning, freedom of expression, and egalitarian teacher-student relationships. The educational values reflected in the novel strongly align with the principles of the Merdeka Curriculum and offer inspiration for sustainable and humane learning practices in Indonesia. This study concludes that literature can serve as a reflective and educational medium in designing inclusive and transformative education systems.Pendidikan ideal seharusnya menghargai keunikan setiap anak yang memiliki kecerdasan dan potensi berbeda, namun realitas di lapangan masih menunjukkan praktik pendidikan yang seragam dan diskriminatif. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan praktik pembelajaran inklusif berbasis kecerdasan majemuk direpresentasikan dalam novel Totto-Chan: The Little Girl at the Window karya Tetsuko Kuroyanagi, serta relevansinya terhadap pendidikan berkelanjutan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis isi terhadap teks novel versi Indonesia dan Inggris, didukung teori progresivisme-humanisme (Dewey, Rogers) serta pendidikan pembebasan (Freire). Teknik pengumpulan data meliputi pembacaan intensif, pencatatan, dan pengkodean tematik, dengan analisis hermeneutik terhadap makna pendidikan dalam narasi. Data dianalisis dengan mengidentifikasi tema-tema kunci yang merepresentasikan nilai-nilai inklusi dan kecerdasan majemuk, kemudian ditafsirkan secara kontekstual berdasarkan kerangka teori yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah Tomoe Gakuen dalam novel menghadirkan praktik pendidikan yang inklusif, fleksibel, dan kontekstual, yang menerima anak “berbeda” seperti Totto-Chan, serta mendukung perkembangan karakter dan kecerdasan majemuk melalui pembelajaran berbasis pengalaman, kebebasan berekspresi, dan relasi guru-murid yang setara. Nilai-nilai pendidikan dalam novel ini memiliki relevansi kuat dengan prinsip Kurikulum Merdeka dan dapat menjadi inspirasi pembelajaran yang berkelanjutan dan manusiawi di Indonesia. Simpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa sastra dapat menjadi media reflektif dan edukatif dalam merancang sistem pendidikan yang inklusif dan transformatif.
Inovasi Media Pembelajaran Digital Scanproedu dalam Materi Teks Prosedur pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 5 Pamekasan Silviana Qurrotul Ayuni; Mochamad Arifin Alatas
Social, Humanities, and Educational Studies (SHES): Conference Series Vol 8, No 3 (2025): Social, Humanities, and Educational Studies (SHEs): Conference Series
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/shes.v8i3.107444

Abstract

The transformation of 21st-century learning demands contextual media innovations that are adaptive to the characteristics of digital native students. This study aims to describe the implementation of the Scanproedu digital learning media based on QR Code in procedural text material for seventh-grade students at SMP Negeri 5 Pamekasan. The research involved 30 students, with data collected through observation, interviews, and documentation, then analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña. The results showed that Scanproedu successfully improved students’ understanding of text structure, language use, and creativity in composing procedural texts. Most students (66.7%) met all three assessment aspects optimally. This media also fostered active participation, independent learning, and collaboration. Both teachers and students responded positively to the media’s ease of access and relevance to their digital habits. Technical obstacles such as limited device availability were overcome through group work strategies and the use of school Wi-Fi. These findings affirm that simple QR Code-based media like Scanproedu are effective in creating contextual and meaningful learning experiences. Further research is recommended to explore its application at different educational levels and in other types of texts or subjects.Transformasi pembelajaran abad ke-21 menuntut inovasi media yang kontekstual dan adaptif terhadap karakteristik siswa digital native. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan media pembelajaran digital Scanproedu berbasis QR Code dalam materi teks prosedur pada siswa kelas VII SMP Negeri 5 Pamekasan. Subjek penelitian berjumlah 30 siswa, dengan data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Scanproedu mampu meningkatkan pemahaman struktur teks, penggunaan kebahasaan, serta kreativitas siswa dalam menyusun teks prosedur. Sebagian besar siswa (66,7%) memenuhi ketiga aspek penilaian secara optimal. Media ini juga mendorong keterlibatan aktif, kemandirian belajar, dan kolaborasi. Guru dan siswa memberikan respons positif terhadap kemudahan akses dan relevansi media dengan kehidupan digital mereka. Kendala teknis seperti keterbatasan perangkat diatasi melalui strategi kerja kelompok dan pemanfaatan Wi-Fi sekolah. Temuan ini menegaskan bahwa media sederhana berbasis QR Code seperti Scanproedu efektif dalam membangun pengalaman belajar yang kontekstual dan bermakna. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menguji penerapan media ini di jenjang pendidikan yang berbeda serta memperluas integrasinya pada jenis teks atau mata pelajaran lain.
Penggunaan Media Pembelajaran Chat Sonic dalam Pembelajaran Teks Prosedur pada Siswa Kelas XI Sekolah Menengah Atas Mohammad Khoirul Rizal; Mochamad Arifin Alatas
Social, Humanities, and Educational Studies (SHES): Conference Series Vol 8, No 3 (2025): Social, Humanities, and Educational Studies (SHEs): Conference Series
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/shes.v8i3.107372

Abstract

This study is motivated by the low level of student participation and understanding in procedural text learning, largely due to the continued use of conventional teaching methods that are less responsive to the learning characteristics of the digital-native generation. Meanwhile, the use of artificial intelligence-based media—such as ChatSonic—in Indonesian language learning remains limited. This research aims to describe the use of ChatSonic as an instructional medium for teaching procedural texts to eleventh-grade high school students and to assess its effectiveness in three main aspects: (1) improving students’ understanding of the structure and linguistic features of procedural texts, (2) encouraging students’ ability to compose procedural texts in a coherent and systematic manner, and (3) increasing student participation and enthusiasm during the learning process. The study employs a descriptive qualitative approach with data collection techniques including observation, interviews, and documentation. The findings are expected to contribute to the development of adaptive and relevant technology-based learning media in the context of 21st-century education.Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya partisipasi dan pemahaman siswa dalam pembelajaran teks prosedur akibat masih dominannya penggunaan metode konvensional yang kurang responsif terhadap karakteristik belajar generasi digital. Sementara itu, pemanfaatan media berbasis kecerdasan buatan, seperti ChatSonic, dalam pembelajaran Bahasa Indonesia masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan ChatSonic sebagai media pembelajaran teks prosedur pada siswa kelas XI SMA serta menilai efektivitasnya dalam tiga aspek utama: (1) meningkatkan pemahaman siswa terhadap struktur dan ciri kebahasaan teks prosedur, (2) mendorong kemampuan menyusun teks prosedur secara runtut dan sistematis, dan (3) meningkatkan partisipasi dan antusiasme belajar siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Temuan dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan media pembelajaran berbasis teknologi yang adaptif dan relevan dengan kebutuhan pendidikan abad ke-21.