Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pelatihan Media Edukatif Wayang Beber Cerita Fabel Sebagai Penguatan Visual-Spatial Intelligence Siswa di SD Negeri Beji Banjarnegara Ageng Pamungkas; Gayuh Styono; Sabrina Putri Aprilaj; Mahendra Vicky
Jompa Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2026): Jompa Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Jompa Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57218/jompaabdi.v5i1.2147

Abstract

Visual-spatial intelligence merupakan kemampuan siswa untuk berpikir dalam bentuk gambar dan memahami hubungan antar ruang dan bentuk, yang sangat krusial dalam mendukung kemampuan kreativitas dan problem solving dalam bidang seni. Visual-spasial intelligence merupakan salah satu aspek penting dalam media edukatif di sekolah dasar. Wayang beber memiliki unsur yang berkaitan erat dalam meningkatkan Visual-spatial intelligence. Terkait media edukasi, wayang beber memiliki potensi untuk dikembangkan dalam bentuk cerita fabel.  Kegiatan ini bertujuan meningkatkan Visual-spatial intelligence yang berbasis pada pengenalan warisan budaya yaitu wayang beber cerita fabel.Adapun Program pengabdian ini dirancang untuk memberikan pelatihan kepada guru di SD Negeri Beji Banjarnegara dalam membuat media edukatif berbasis warisan budaya. Pelatihan ini mengacu pada hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 2024 berkaitan dengan analisis preferensi gaya belajar Visual. Tahapan dari kegiatan pengabdian ini adalah: (1) Tahapan Persiapan (Pra-Kegiatan) terdiri dari koordinasi awal, penyusunan modul pelatihan, dan pembuatan media contoh. (2) Tahapan Pelatihan Media Edukatif (Kegiatan) terdiri dari sesi 1 pemberian materi, sesi 2 studi kasus, dan sesi 3 praktik. (3) Tahapan Evaluasi dan Pelaporan (Pasca-Kegiatan) meliputi formatif dan sumatif. Secara umum tujuan program pengabdian yaitu meningkatnya kompetensi guru dalam merancang media edukatif wayang beber cerita fabel sebagai penguatan visual-spatial intelligence siswa. Target luaran berupa modul pelatihan, karya wayang beber cerita fabel; publikasi jurnal; dan publikasi di media masa online.
Recontextualization of Aesthetics Barongan: A Case Study of Barongan Works by Andre Saputra in the Transmigrant Community of Nibung, Musi Rawas Utara Nafissatul Aminin; Gayuh Styono
Texture : Art And Culture Journal Vol. 9 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/texture.v9i1.8299

Abstract

Barongan is a form of traditional performing art rooted in ritual practices and belief systems, particularly within Javanese and Balinese traditions. Along with social change and cultural mobility, this art form has undergone transformation when practiced within transmigrant communities. This study aims to analyze the recontextualization of Barongan aesthetics in the works of Andre Saputra in Sumber Sari Village, Nibung District, North Musi Rawas Utara Regency, South Sumatra. The research employs a qualitative approach with an art ethnography strategy to examine the relationship between the artist’s creative process, the visual characteristics of the artwork, and the socio-cultural context of the transmigrant community. Data were collected through observation, in-depth interviews, documentation, and literature review, and analyzed using the Miles and Huberman model with a symbolic-aesthetic approach based on Monroe Beardsley’s theory of aesthetics, which includes unity, complexity, and intensity. The findings reveal that Andre Saputra’s Barongan works represent a process of cultural adaptation that integrates Javanese Barongan visual traditions with the local socio-cultural context of transmigrant society. The artworks demonstrate strong aesthetic qualities through coherent visual composition, intricate ornamental details, and intense expressive character. Furthermore, Barongan has undergone a recontextualization of function from a ritual medium into a form of popular performance art that serves both as entertainment and as a cultural commodity within the creative economy. Thus, Barongan in transmigrant settings functions not only as cultural heritage but also as a form of urban art that reflects cultural identity, artistic creativity, and the social dynamics of contemporary society
Inovasi dan keberlanjutan budaya: Transformasi kertas gendhong di Pesantren Gontor Gayuh Styono; Arfiati Nurul Komariah; Anastasia Irma Riani
Jurnal Desain Vol 13 No 2 (2025): Jurnal Desain
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jd.v13i2.752

Abstract

Tradisi pembuatan kertas gendhong di Pesantren Tegalsari, Ponorogo, yang menjadi bagian penting dari sejarah literasi pesantren Jawa, mengalami kemunduran seiring melemahnya aktivitas intelektual pesantren tradisional. Ketika upaya pelestarian media tulis klasik ini mulai hilang, muncul inisiatif baru dari komunitas santri Pondok Gontor pada tahun 2020 untuk merevitalisasinya melalui pengembangan inovasi teknik cetak serat berbahan dasar pohon glugu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi kertas gendhong dari medium tulis tradisional menjadi media seni kaligrafi, serta menjelaskan bagaimana inovasi teknik dan nilai-nilai spiritual produksi berkontribusi terhadap keberlanjutan budaya pesantren. Penelitian ini menggunakan pendekatan critical ethnography melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam dengan pelaku komunitas. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti memahami relasi antara praktik artistik, nilai simbolik, dan konteks sosial budaya pesantren secara reflektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inovasi teknik cetak serat pada kertas gendhong tidak hanya berfungsi sebagai adaptasi material, tetapi juga menjadi strategi kreatif dalam memperkuat kesadaran historis dan spiritual santri. Proses pembuatan kertas menjadi bentuk praktik kesabaran dan ketekunan, sementara penggunaannya dalam seni kaligrafi menghidupkan kembali makna literasi pesantren sebagai ekspresi spiritual dan budaya. Penelitian ini menegaskan bahwa revitalisasi kertas gendhong merupakan bentuk keberlanjutan budaya berbasis kearifan lokal dengan paradigma inovasi seni dan pelestarian warisan budaya takbenda.