Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Analysis of Inclusive Agricultural Management Models for Strengthening Institutions and Mushroom Industry Performance Edwin Pondi Suwanto; Vierkury Metyopandi; Arya Agung Al Aziz; Putri Ayu Setiyowati; Arbikhan Mustaan
Business Management Research Vol. 4 No. 2 (2025): July 2025
Publisher : University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/bismar.v4i2.15984

Abstract

This research aims to analyze the level of inclusivity in the mushroom industry management in Mojokerto Regency using the Agricultural Industry Inclusivity Management (IMIP) model and to identify factors influencing inclusivity. This study employed a quantitative approach with an explanatory design. Primary data were collected through a survey using a Likert- scale questionnaire administered to 60 respondents, comprising mushroom farmers and related business actors. The five dimensions of IMIP analyzed were participation, equitable access, benefit distribution, capability and innovation, and institutional connectivity. Data analysis was performed using descriptive statistics, Pearson correlation tests, and multiple linear regression with SPSS. The results indicate that the inclusivity level of the mushroom industry is in the "fairly good" category. The dimensions of participation and institutional connectivity were the most dominant factors influencing inclusivity (p<0,01), followed by equitable access and benefit distribution. Meanwhile, capability and innovation did not have a significant effect. The regression model explained 68% of the variation in mushroom industry inclusivity. These findings highlight the importance of strengthening collective participation, institutional networks, access to capital, and technical assistance to enhance the inclusivity and competitiveness of the mushroom industry in Mojokerto Regency.
Pemanfaatan Limbah Industri dan Peternakan sebagai Bahan Baku Pupuk Organik Solusi Masalah Lingkungan dan Program Ketahanan Pangan Dipa Aditya; Ni Dewi Ambal Ikka; Dedy Sekarmaji; Edwin Pondi Suwanto
Jurnal Riset Multidisiplin Agrisosco Vol 4, No 2 (2026): Vol 4 No 2 Agustus 2026
Publisher : Lembaga Penelitian, Pengembangan, Pemberdayaan Potensi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61316/jrma.v4i2.377

Abstract

Pemanfaatan limbah organik sebagai bahan baku pupuk organik merupakan salah satu strategi penting dalam mewujudkan pertanian berkelanjutan dan ekonomi sirkular. Peningkatan aktivitas industri agroindustri dan peternakan di Indonesia, khususnya di Provinsi Jawa Timur, menghasilkan limbah organik dalam jumlah besar yang berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Di sisi lain, limbah tersebut masih mengandung unsur hara dan bahan organik yang dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan pembenah tanah maupun pupuk organik. Oleh karena itu, pengolahan limbah organik menjadi pupuk organik tidak hanya berfungsi sebagai solusi pengurangan pencemaran lingkungan, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi industri dan masyarakat. Namun demikian, penggunaan masing-masing limbah secara tunggal sering kali belum menghasilkan kompos yang memenuhi persyaratan mutu pupuk organik sesuai SNI 7763:2018 dan Permentan 261/KPTS/SR.310/M/4/2019 tentang Pupuk Organik Padat maupun standar teknis pupuk organik lainnya. Kandungan unsur hara makro (N, P, K), rasio C/N, kadar air, pH, dan kandungan bahan organik pada setiap limbah sangat bervariasi sehingga diperlukan formulasi atau pencampuran bahan yang tepat untuk memperoleh kompos dengan kualitas yang memenuhi standar Berdasarkan hasil Analisa diketahui bahwa Limbah Industri Filter Aid dan Limbah Peternakan Kotoran Sapi dapat dijadikan bahan baku pupuk organik dimana limbah tersebut merupakan limbah yang dikeluarkan secara berkala dan menjadi potensi kebersihan lingkungan serta mendukung program ketahanan pangan. Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan metode Mixture Design Linier (Scheffé) dan Neraca Massa, Rasio pencampuran bahan baku Filter Aid dan Kotoran Sapi sebesar 0,1582 : 0,842 atau 1:5 didapatkan parameter pupuk organic padat sesuai SNI dan Permentan 2019.
Omnichannel Marketing Strategy to Increase Customer Satisfaction and Loyalty in Beverage MSMEs in Mojokerto Regency Ina Dwi Wijayanti; Edwin Pondi Suwanto
Trending: Jurnal Manajemen dan Ekonomi Vol. 4 No. 3 (2026): Juli: Trending: Jurnal Manajemen dan Ekonomi
Publisher : Universitas 45 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30640/trending.v4i3.7175

Abstract

The rapid development of digital technology has transformed consumer purchasing behavior in the food and beverage sector by enabling purchases through multiple online and offline channels. This condition requires Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) to implement integrated marketing strategies to improve customer satisfaction and loyalty. This study aims to analyze the effect of omnichannel marketing strategies on customer satisfaction and customer loyalty in beverage MSMEs in Mojokerto Regency, Indonesia. A quantitative approach with a survey method was used, involving 130 respondents selected through purposive sampling. Data were collected using a Likert-scale questionnaire and analyzed using SPSS through validity tests, reliability tests, classical assumption tests, multiple linear regression analysis, t-tests, F-tests, and coefficient of determination (R²). The results show that all research instruments were valid and reliable. Omnichannel marketing has a positive and significant effect on customer loyalty, with a regression coefficient of 0.421 and a t-value of 5.872 (p < 0.05). Customer satisfaction also has a positive and significant effect on customer loyalty, with a regression coefficient of 0.389 and a t-value of 5.214 (p < 0.05). Simultaneously, omnichannel marketing and customer satisfaction significantly influence customer loyalty, as indicated by an F-value of 74.321 and a significance level of 0.000. The R² value of 0.681 indicates that 68.1% of customer loyalty variation is explained by both variables.