Penyusunan perencanaan pada dinas kesehatan kabupaten masih menghadapi persoalan fragmentasi data dan lemahnya kapasitas analisis prediktif. Persoalan ini diperberat oleh keterbatasan integrasi antar-dokumen perencanaan (RPJMD, Renstra, Renja, dan hasil Musrenbang). Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat, sebagai daerah dengan prevalensi stunting tertinggi di provinsinya (mencapai 40,6% pada 2022), menggambarkan kebutuhan mendesak akan perencanaan berbasis bukti. Penelitian ini bertujuan menelaah secara sistematis bagaimana Artificial Intelligence (AI) dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah penyusunan perencanaan kesehatan terintegrasi pada tingkat pemerintah daerah. Metode: studi ini menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) mengikuti protokol PRISMA 2020 terhadap artikel terindeks Scopus, PubMed/MEDLINE, dan basis data nasional pada rentang 2018–2025. Dari proses seleksi diperoleh 22 artikel (n = 22) yang memenuhi kriteria inklusi, kemudian dianalisis dengan kerangka Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT). Hasil: AI berkontribusi pada empat fungsi perencanaan, yaitu (1) integrasi dan pembersihan data lintas-sumber, (2) peramalan kebutuhan layanan dan beban penyakit, (3) optimalisasi alokasi sumber daya dan distribusi tenaga kesehatan, serta (4) dukungan pengambilan keputusan berbasis bukti. Tantangan utama meliputi kesiapan infrastruktur digital, tata kelola dan kualitas data, kompetensi sumber daya manusia, serta aspek etika dan regulasi. Kesimpulan: pemanfaatan AI berpotensi memperkuat perencanaan kesehatan terintegrasi pada Dinas Kesehatan Kabupaten Majene apabila diterapkan secara bertahap melalui kesiapan sistem (system readiness), penguatan tata kelola data, dan peningkatan kapasitas SDM.