Pendahuluan: Berat badan lahir rendah masih menjadi masalah kesehatan global yang mempengaruhi morbiditas dan mortalitas pada bayi, balita dan anak-anak. Data BPS menunjukkan bahwa Provinsi NTT menempati urutan ke-5 kasus BBLR tertinggi pada tahun 2023 sebanyak 5.701 kasus dan Kabupaten Rote Ndao menempati urutan pertama pada tahun 2023 yaitu sebanyak 28,3% menurut perempuan yang pernah melahirkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko kejadian BBLR di wilayah kerja puskesmas Oelaba. Metode: Jenis penelitian observasional analitik dengan metode case control menggunakan 76 sampel yang terdiri atas 38 balita BBLR dan 38 balita BBLN. Kelompok kontrol dipilih dengan teknik simple random sampling. Penelitian dilakukan pada 10 Juni-10 Juli 2025 menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan uji chi-square dan uji regresi logistik ganda. Hasil: Hasil analisis menunjukkan bahwa umur (p-value 0,002), status gizi (p-value 0,000), antenatal care (p-value 0,000), dan penyakit penyerta (p-value 0,038) merupakan faktor risiko sedangkan jarak kehamilan (p-value 0,050), paritas (p-value 0,066), pendidikan (p-value 0,066) dan status ekonomi (p-value 0,150) bukan faktor risiko kejadian BBLR. Umur (p-value 0,004, OR 6,373) dan status gizi (p-value 0,025, OR 4,671) merupakan faktor risiko yang paling berpengaruh terhadap kejadian BBLR dengan kontribusi sebesar 50%. Kesimpulan: Umur, status gizi, antenatal care, dan penyakit penyerta merupakan faktor risiko. Umur dan status gizi adalah faktor yang paling berisiko terhadap kejadian BBLR di wilayah kerja Puskesmas Oelaba tahun 2024 Saran: Edukasi terkait dampak kehamilan usia berisiko, KEK, ANC lengkap, konsumsi TTD dan asupan makanan bergizi sangat penting dilakukan oleh tenaga kesehatan setempat.