Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Faktor Risiko Kejadian BBLR di Wilayah Kerja Puskesmas Oelaba Kabupaten Rote Ndao Tahun 2024 Wina Jensisca Muda; Soleman Landi; Indriati Tedju Hinga; Deviarbi Sakke Tira
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.3291

Abstract

Pendahuluan: Berat badan lahir rendah masih menjadi masalah kesehatan global yang mempengaruhi morbiditas dan mortalitas pada bayi, balita dan anak-anak. Data BPS menunjukkan bahwa Provinsi NTT menempati urutan ke-5 kasus BBLR tertinggi pada tahun 2023 sebanyak 5.701 kasus dan Kabupaten Rote Ndao menempati urutan pertama pada tahun 2023 yaitu sebanyak 28,3% menurut perempuan yang pernah melahirkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko kejadian BBLR di wilayah kerja puskesmas Oelaba. Metode: Jenis penelitian observasional analitik dengan metode case control menggunakan 76 sampel yang terdiri atas 38 balita BBLR dan 38 balita BBLN. Kelompok kontrol dipilih dengan teknik simple random sampling. Penelitian dilakukan pada 10 Juni-10 Juli 2025 menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan uji chi-square dan uji regresi logistik ganda. Hasil: Hasil analisis menunjukkan bahwa umur (p-value 0,002), status gizi (p-value 0,000), antenatal care (p-value 0,000), dan penyakit penyerta (p-value 0,038) merupakan faktor risiko sedangkan jarak kehamilan (p-value 0,050), paritas (p-value 0,066), pendidikan (p-value 0,066) dan status ekonomi (p-value 0,150) bukan faktor risiko kejadian BBLR. Umur (p-value 0,004, OR 6,373) dan status gizi (p-value 0,025, OR 4,671) merupakan faktor risiko yang paling berpengaruh terhadap kejadian BBLR dengan kontribusi sebesar 50%. Kesimpulan: Umur, status gizi, antenatal care, dan penyakit penyerta merupakan faktor risiko. Umur dan status gizi adalah faktor yang paling berisiko terhadap kejadian BBLR di wilayah kerja Puskesmas Oelaba tahun 2024 Saran: Edukasi terkait dampak kehamilan usia berisiko, KEK, ANC lengkap, konsumsi TTD dan asupan makanan bergizi sangat penting dilakukan oleh tenaga kesehatan setempat.
PENCEGAHAN STUNTING, PENINGKATAN EKONOMI MASYARAKAT DAN PARIWISATA MELALUI PROGRAM KULIAH KERJA NYATA TEMATIK DI DESA TESI AYOFANU, KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN Jusuf Manilapai; Felixa Yuki Levinda; Albertha Gitania Surya Bui Aton; Elvira Olfriane Tanggu Hana; Wina Jensisca Muda; Jacob M. Ratu; Yuliana Tandi Rubak
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2025): Volume 6 No. 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i2.42969

Abstract

Kuliah kerja nyata (KKN) merupakan salah satu bentuk nyata pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. Sesuai temanya yaitu membangun desa, kegiatan KKN Tematik Kolaboratif Universitas Nusa Cendana bertujuan agar mahasiswa ikut berperan aktif dalam menyelesaikan masalah di masyarakat dengan 3 tema utama berupa kesehatan (stunting), pertanian dan pariwisata yang dilaksanakan di desa Tesi Ayofanu. Sesuai dengan masalah utama yang ditemukan dilapangan, yaitu tingginya angka stunting di bidang kesehatan, rendahnya pemasaran dan pengolahan pangan lokal bernilai jual tinggi di bidang pertanian serta minimnya promosi potensi pariwisata lokal yang dapat meningkatkan ekonomi masyarakat. Penelitian dalam pengabdian masyarakat ini merupakan penelitian lapangan jenis deskriptif kualitatif. Metode yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Mahasiswa KKN melakukan 3 program kerja utama sesuai 3 tema yaitu penyuluhan kesehatan dengan leaflet dan pembuatan buku "Tesi Ayofanu Menolak Stunting" untuk tema kesehatan. Pengolahan bubuk bawang putih untuk tema pertanian dan pembuatan buku pariwisata berjudul “Tesi Ayofanu : Merekam Kehidupan, Adat dan Cerita Desa” untuk tema pariwisata. Hasil penelitian menunjukan bahwa penyuluhan kesehatan mengubah persepsi responden bahwa pantangan mengonsumsi protein hewani selama masa nifas adalah hal yang salah. Pengolahan bawang putih bubuk juga menjadi produk inovasi baru dengan nilai jual, daya tahan serta daya jual tinggi yang didukung keberlanjutannya oleh pemerinta setempat. Buku pariwisata juga diapresiasi sebagai motivasi untuk merealisasikan Tesi Ayofanu sebagai desa wisata dimasa depan dengan perbaikan infrastruktur yang menunjang pengembangan desa.