Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pertunjukan Pariwisata Cak Bona di Era Globalisasi: Antara Pelestarian Tradisi dan Adaptasi Pariwisata Putu Ayu Dian Ratna; I Made Sidia; Nurfadillah Mustari
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.3897

Abstract

Penelitian ini membahas Cak Bona, sebuah pertunjukan seni tradisional dari Desa Bona, Gianyar, Bali, yang berakar dari tari sakral Sanghyang dan berkembang menjadi varian tari Kecak. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan sejarah, makna budaya, transformasi Cak Bona menjadi atraksi pariwisata, serta tantangan dan peluangnya di era globalisasi. Metode yang digunakan berupa studi literatur, observasi lapangan, serta wawancara dengan pelaku budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Cak Bona tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pelestarian identitas lokal, diplomasi budaya, dan penggerak ekonomi kreatif berbasis komunitas. Di sisi lain, globalisasi menghadirkan tantangan berupa komodifikasi budaya dan tekanan modernisasi. Oleh karena itu, strategi pelestarian berbasis komunitas, pendidikan seni, dan pemanfaatan media digital menjadi kunci keberlanjutan. Artikel ini menegaskan bahwa Cak Bona merupakan contoh praktik pariwisata budaya yang mampu menjaga keseimbangan antara nilai tradisi dan tuntutan global.
Revitalisasi Wayang Wong Anak-Anak Di Desa Bona, Gianyar, Bali Ni Made Ruastiti; I Made Sidia; Gede Yoga Kharisma Pradana; Kadek Suryani; Putri Anggreni
PUBLICA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2026): PUBLICA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, April 2026
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/publica.v4i2.91

Abstract

Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini untuk revitalisasi pertunjukan Wayang Wong anak-anak yang mulai terpinggirkan akibat putusnya regenerasi. Sebagai warisan budaya yang mengandung nilai-nilai budaya lokal dengan koreografi gerak yang lucu dan menghibur, Wayang Wong anak-anak semestinya tidak terpinggirkan pada masyarakat desa Bona, di Gianyar. Akan tetapi, terlihat sangat jarang dipentaskan karena masalah kader penarinya.  Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dengan metode R&D dengan tahapan identifikasi kebutuhan mitra, serta tahapan sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, evaluasi rancangan untuk keberlanjutan rancangan model pertunjukan yang ditopang oleh hasil analisis kualitatif dalam perspektif kajian budaya. Hasil menunjukan bahwa revitalisasi Wayang Wong Anak-Anak berhasil dilakukan dengan menciptakan Wayang Wong Anak-Anak Inovatif untuk upacara di Pura Dalem Desa Bona, Gianyar dengan bantuan Sanggar Paripurna selaku mitra. Wayang Wong Anak-Anak Inovatif ini adalah purwarupa yang dihasilkan berdasarkan penelitian dasar, sosialisasi rancangan, pelatihan artistik, pendampingan, evaluasi dan upaya penguatan eksistensi melalui teknologi & media promosi. Dengan berminatnya anak-anak di desa Bona menari Wayang Wong Anak-Anak Inovatif maka telah menanggulangi masalah krisis regenerasi penari Wayang Wong sebagai salah satu penyebab Wayang Wong terpinggirkan dalam kebudayaan masyarakat lokal di Desa Bona, Gianyar.
Artikel Kilit Kalut: Teater Pakeliran sebagai Representasi Konflik Batin Tokoh Salya: Kilit Kalut: Teater Pakeliran sebagai Representasi Konflik Batin Tokoh Salya I Komang Wahyu Widiyantara; I Made Sidia; I Kadek Widnyana; Hanolda Gema Akbar
JURNAL DAMAR PEDALANGAN Vol 6 No 1 (2026): Mei
Publisher : Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/dmr.v6i1.6553

Abstract

The creation of the puppetry performance Kilit Kalut is grounded in the need to expand the aesthetic and social functions of Balinese puppetry in responding to contemporary human inner conflicts. Traditional puppetry has predominantly emphasized external conflicts, leaving psychological dimensions underexplored. This study aims to represent the inner conflict of Salya from the Kakawin Baratayudha through a teater pakeliran framework as an artistic innovation. A qualitative-descriptive method with a practice-based research approach was employed, utilizing Harymawan’s 4M stages (imagining, writing, performing, observing), supported by rehearsal observations, textual analysis, and cross-media artistic exploration. The results demonstrate that the integration of Balinese shadow puppetry, live actors, lighting design, and gamelan effectively constructs a symbolic and dramatic representation of psychological duality. This innovation repositions puppetry as a medium for existential reflection rather than mere entertainment or ritual performance.  This study introduces inner conflict as the central dramaturgical axis in Balinese puppetry through an integrative teater pakeliran approach. In conclusion, the study contributes to the development of contemporary puppetry aesthetics while sustaining traditional values within a modern cultural context.