Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Rekonstruksi Tiga Pilar Kewenangan Sertifikasi Halal di Indonesia (Telaah Hukum Pembagian Tugas BPJPH, MUI, dan LPH dalam PP Nomor 42 Tahun 2024) Ade Nadiansyah; Muhammad Yusuf; Shabarullah Shabarullah
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.4674

Abstract

Sertifikasi halal di Indonesia merupakan kebutuhan penting untuk menjamin kepastian hukum bagi konsumen muslim dan memberikan kepastianusaha bagi pelaku bisnis. Namun, sistem sebelumnya sering menimbulkan tumpang tindih kewenangan antara Badan Penyelenggara Jaminan ProdukHalal (BPJPH), Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan Lembaga Pemeriksa Halal (LPH). Kehadiran Undang-Undang Cipta Kerja dan Pasal 48 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 melahirkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2024 yang bertujuan menyederhanakan prosedur, mengurangi beban administratif, dan menyinkronkan pembagian kewenangan antar lembaga. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dan menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual, berdasarkan analisis regulasi, literatur akademik, serta hasilpenelitian terdahulu. Hasil kajian menunjukkan bahwa PP Nomor 42 Tahun 2024 menegaskan BPJPH sebagai otoritas utama sertifikasi, MUIsebagai pemberi fatwa halal, serta LPH sebagai pelaksana teknis pemeriksaan. Rekonstruksi kewenangan ini diharapkan memperkuat kepastianhukum, meminimalisasi konflik kelembagaan, dan meningkatkan efektivitas pelayanan publik. Dengan demikian, regulasi baru ini berpotensi menjadiinstrumen penting dalam mewujudkan sistem sertifikasi halal yang sederhana, akuntabel, dan konsisten di Indonesia.
Lineage Determination as a Rights-Restoration Mechanism for Children: An Analysis of Judicial Reasoning and Its Legal Implications Khairizzaman Khairizzaman; Mansari Mansari; Nufiar Nufiar; Dedy Sumardi; Mukhsin Nyak Umar; Muhammad Yusuf
Lentera: Indonesian Journal of Multidisciplinary Islamic Studies Vol 8 No 1 (2026): Lentera: Indonesian Journal of Multidisciplinary Islamic Studies
Publisher : Program Pascasarjana IAIN Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/lentera.v8i1.14583

Abstract

Children born from unregistered marriages continue to occupy a legally vulnerable position within Indonesian family law. Existing studies predominantly examine the civil consequences of unregistered marriages or the administrative status of children, while limited attention has been given to how judicial reasoning constructs legal protection through the determination of a child’s lineage. This study addresses that gap by analyzing the legal foundations and judicial construction employed in parentage determination petitions and their implications for strengthening child protection within Islamic family law. The research applies a qualitative legal method using normative and empiris, conceptual, and case approaches through the examination of court decisions, statutory regulations, and legal doctrine. The data were collected through interviews with Religious Court judges and documentary analysis. The findings reveal that judges do not merely verify biological relationships but develop a child-centered legal construction by integrating the principle of the best interests of the child with Islamic legal requirements concerning the validity of marriage and evidentiary standards. Judicial assessment of witnesses, documentary evidence, and trial facts functions as a mechanism for transforming factual parent-child relationships into legally recognized civil status. This study argues that the determination of lineage serves as a juridical instrument of rights restoration, creating a protective framework that secures inheritance rights, maintenance, guardianship, and civil registration while reducing the adverse effects of legal uncertainty arising from unregistered marriages. The research contributes a conceptual model of lineage determination as a child protection mechanism that bridges Islamic family law principles, evidentiary law, and contemporary child rights standards.