Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dari mimbar ke layar, dari sanad ke cerita: Representasi Dakwah Ustaz Adi Hidayat dan Felix Siauw dalam Budaya Media Baru Nissya Febrizani; Siti Aisyah
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5154

Abstract

Transformasi digital dalam Islam di Indonesia bukan hanya soal media shift, tapi cultural shift. Pola otoritas yang dulu berbasis sanad, pesantren, dan legitimasi tradisional kini dipertarungkan dalam ruang algoritma yang dikendalikan oleh likes, views, dan shares. Dakwah berubah dari proses dialogis-ritual ke bentuk performatif-visual yang menekankan estetika (editing, grafis, tone visual). Artikel ini menelaah pergeseran otoritas dakwah dari pola berbasis sanad dan institusi klasik menuju narasi personal yang ditopang oleh algoritma media sosial. Ustaz Adi Hidayat (UAH) dalam konteks ini,  menampilkan model dakwah yang masih menekankan kontinuitas tradisi berupa struktur keilmuan, kedalaman teks, dan otoritas yang merujuk pada sanad, meski tetap dikemas dengan gaya visual modern. Sementara itu, Felix Siauw menggunakan strategi populis: narasi singkat, sloganistik, dan mudah dipakai ulang oleh audiens dalam bentuk meme atau quote-sharing. Perspektif yang digunakan dengan metode netnografi, observasi media visual, dan wawancara semi-struktural untuk menangkap bagaimana simbol Islam dimaknai ulang. Simbol Islam di ruang digital tidak hadir sebagai “pesan tunggal”, tetapi sebagai arena representasi, di mana audiens menegosiasikan makna: apakah melihatnya sebagai otoritas keilmuan, identitas gaya hidup, atau bahkan komoditas budaya. Artikel ini menganalisis bagaimana dakwah digital membentuk makna keagamaan melalui simbol-simbol visual yang dikonstruksi dan dinegosiasikan oleh penonton. Temuan menunjukkan bahwa media sosial bukan sekadar sarana penyebaran pesan, tetapi ruang aktif yang membentuk ulang otoritas dan makna keislaman. Literasi simbolik dibutuhkan agar kemasan dakwah tidak mengaburkan pesan spiritualnya, melainkan justru memperkuat kedalaman makna yang disampaikan. Studi ini berkontribusi pada pemahaman baru tentang bagaimana Islam direpresentasikan, dikonsumsi, dan dipertarungkan secara visual dalam budaya populer digital Indonesia.
Menguji Batas Reformasi: Akses Perceraian Perempuan dalam Moudawana di Maroko Nella Liandini; Siti Aisyah; Dita Indriani Siregar; Zulfan Zulfan; Tiswarni Tiswarni
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 5: Agustus 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i5.18565

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemudahan perceraian perempuan dalam hukum keluarga Islam di Maroko serta implikasinya terhadap keadilan gender dan ketahanan institusi keluarga. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada adanya ketimpangan dalam fiqh klasik yang menempatkan hak talak secara dominan di tangan suami, sehingga membatasi akses perempuan dalam mengakhiri perkawinan yang tidak harmonis. Reformasi hukum keluarga melalui moudawana menjadi titik penting dalam upaya menghadirkan sistem hukum yang lebih adil dan responsif terhadap perkembangan sosial. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan perbandingan. Data diperoleh melalui studi kepustakaan yang meliputi bahan hukum primer, sekunder, dan tersier, kemudian dianalisis secara kualitatif dengan pendekatan deskripti analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reformasi moudawana telah memperluas akses perempuan terhadap perceraian melalui mekanisme pengadilan serta mengalihkan otoritas perceraian dari ranah privat ke ranah negara. Hal ini mencerminkan pergeseran paradigma dari pendekatan tekstual menuju kontekstual dalam hukum Islam, serta memberikan kontribusi terhadap peningkatan keadilan gender. Namun demikian, kemudahan perceraian juga menimbulkan implikasi sosial, seperti potensi meningkatnya angka perceraian dan adanya kesenjangan antara norma hukum dan praktik sosial yang masih dipengaruhi oleh budaya patriarki. Dengan demikian, reformasi hukum keluarga di Maroko dapat dipahami sebagai upaya menyeimbangkan antara prinsip syariat, keadilan gender, dan dinamika sosial modern. Meskipun menghadapi berbagai tantangan dalam implementasi, model ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan hukum keluarga Islam yang lebih adaptif dan berorientasi pada kemaslahatan.