Peningkatan volume sampah perkotaan di Indonesia berbanding lurus dengan peningkatan jumlah pekerja di sektor pengelolaan sampah, khususnya sektor informal seperti pemulung. Kelompok pekerja ini menghadapi risiko kesehatan kerja (K3) yang tinggi akibat paparan langsung terhadap limbah biologis, kimia, dan fisik tanpa perlindungan yang memadai. Penyakit kulit, terutama dermatitis, merupakan salah satu penyakit akibat kerja (PAK) yang paling sering dilaporkan di kalangan pekerja ini..Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif prevalensi penyakit kulit, dengan fokus pada dermatitis, di kalangan petugas pengelola sampah informal di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode Tinjauan Literatur Komprehensif (Comprehensive Literature Review). Data dikumpulkan dari database ilmiah Google Scholar, SINTA, dan Garuda, dengan fokus pada studi cross-sectional yang dipublikasikan dalam sepuluh tahun terakhir (2015-2025). Hasil penelitian menunjukkan sintesis dari berbagai studi kasus di Indonesia menunjukkan prevalensi penyakit kulit yang sangat tinggi. Studi di TPA Muara Fajar (Pekanbaru) menemukan 88,7% pemulung menderita penyakit kulit. Studi lain di TPA Terjun (Medan) melaporkan 56,1% mengalami keluhan kulit, dan TPA Pecuk (Indramayu) melaporkan 37,5% menderita dermatitis kontak. Faktor risiko yang secara konsisten menunjukkan hubungan signifikan adalah personal hygiene yang buruk (meningkatkan risiko 1,6 hingga 4,9 kali), tidak menggunakan APD (risiko 1,4 kali lebih tinggi), dan masa kerja (pemulung dengan masa kerja >10 tahun berisiko 6,2 kali lebih tinggi menderita gangguan kulit).