Tumor otak merupakan pertumbuhan sel abnormal pada jaringan otak yang dapat bersifat primer maupun metastasis. Tumor otak memiliki insiden yang lebih rendah dibandikan tumor pada organ lain, namun menimbulkan morbiditas dan mortalitas yang tinggi karena melibatkan sistem saraf pusat. Secara global, insiden tumor otak mencapai sekitar 3,5 per 100.000 penduduk dengan angka mortalitas 2,6 per 100.000, dan menunjukkan peningkatan di Asia serta Eropa. Di Indonesia, insidennya berkisar antara 2,8–3,2 per 100.000 dengan mortalitas yang hampir sebanding. Seorang laki-laki, 76 tahun, datang dengan penurunan kesadaran sejak satu hari sebelum masuk rumah sakit, disertai napas cepat dan keluhan sakit kepala berbulan-bulan serta kelemahan anggota gerak kiri. Hasil CT-scan kepala menunjukkan massa intraaksial di lobus frontotemporoparietal kanan dengan edema vasogenik dan herniasi subfalsin 0,85 cm ke kiri. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan patologi anatomi sebagai astrocytoma anaplastik, WHO grade 3. Pasien menjalani tindakan VP shunt dan craniectomy dekompresi untuk tumor removal. Pemeriksaan histopatologi menunjukkan sel tumor glial dengan pleomorfisme inti dan mitosis tinggi, sesuai dengan astrocytoma anaplastik. Kasus ini menekankan pentingnya diagnosis dini dan intervensi bedah segera pada tumor otak dengan tanda peningkatan tekanan intrakranial. Pendekatan multidisipliner diperlukan untuk menurunkan mortalitas dan meningkatkan kualitas hidup pasien.